Anak Kembar
5 hari
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Saat Darah Ayam Menetes Di Tangga, Kudengar Keponakanku Merencanakan Mengusirku

Saat Darah Ayam Menetes Di Tangga, Kudengar Keponakanku Merencanakan Mengusirku gambar oleh Anak Kembar
dari Rumah yang Kubeli dengan Sepuluh Tahun Masa Mudaku Sendiri Bagian 1 — Di Balik Pintu Setengah Terbuka, Aku Mendengar Harga Diriku Dihitung Seharga Uang Pergi Pada ulang tahunku yang ke-34, aku pulang membawa setengah ekor ayam dari pasar tradisional dekat Jalan Kaliurang. Hujan baru saja berhenti. Plastik putih di tanganku bocor sedikit, membuat air bercampur darah ayam menetes satu per satu di anak tangga rumah kontrakan lama yang kusewa sebelum akhirnya membeli unit kecil di lantai dua itu. Aku masih ingat setiap tetes merah yang jatuh. Karena tepat malam itulah, setelah sepuluh tahun menjadi “ibu” bagi anak orang lain, aku akhirnya tahu berapa harga diriku di mata anak yang kubesarkan. Namaku Mira Adiningrum. Sepuluh tahun lalu, kakakku, Ratih, meninggal karena komplikasi setelah operasi. Suaminya, Arman, bertahan hanya sekitar empat bulan. Awalnya dia masih pulang seminggu sekali. Kemudian dua minggu sekali. Lalu sebulan sekali. Sampai suatu pagi, teleponnya tidak aktif. Utangnya ada di mana-mana. Motor Ratih sudah dijual. Beberapa barang elektronik juga hilang. Dan yang tersisa di hadapanku hanyalah Galang, anak mereka yang waktu itu baru berusia delapan tahun. Malam pertama setelah Arman menghilang, Galang demam tinggi sambil memeluk lenganku. “Tante jangan pergi juga.” Aku masih berusia 24 tahun. Aku baru lulus S1 Akuntansi dan seharusnya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti program management trainee sebuah perusahaan multinasional. Aku membatalkan semuanya. Kupikir hanya satu atau dua tahun. Kupikir ketika keadaan Galang sudah stabil, aku bisa memulai lagi. Ternyata waktu bergerak lebih cepat daripada rencana manusia. Saat teman-temanku mengejar promosi, aku mengantar Galang les matematika. Saat mereka menikah, aku menghadiri rapat wali murid. Saat mereka mengunggah foto liburan ke Jepang, aku menghitung apakah uang bulan itu cukup untuk membayar SPP, kursus bahasa Inggris, sepatu futsal, dan obat asma Galang. Aku tidak pernah menganggapnya beban. Sungguh. Bahkan rumah kecil tiga kamar di Sleman yang akhirnya kubeli tujuh tahun lalu pun kupilih karena dekat dengan sekolah Galang. Aku mengambil pekerjaan sebagai staf pembukuan di sebuah distributor bahan bangunan. Gajiku tidak besar. Tetapi jam kerjanya pasti. Aku bisa menyiapkan sarapan. Aku bisa menjemput Galang ketika sakit. Aku bisa hadir setiap kali sekolah memanggil wali murid. Selama bertahun-tahun, tetangga mengira rumah itu peninggalan Ratih. Galang pun sepertinya berpikir begitu. Aku tidak pernah merasa perlu menjelaskan. Sampai malam ulang tahunku itu. Pintu rumah setengah terbuka. Dari ruang makan terdengar suara Galang sedang melakukan panggilan video dengan teman-temannya. Aku hendak masuk ketika kudengar namaku disebut. “Tante lo galak enggak?” Galang tertawa. Bukan tawa anak kecil yang dulu memanggilku setiap kali takut petir. Tawa itu ringan, mengejek. “Mira?” Dia bahkan tidak menyebutku Tante. “Biasa aja. Dia mah hidupnya muter di gue doang.” Temannya mengatakan sesuatu. Galang kembali tertawa. “Serius. Umur segitu belum nikah, pacar aja enggak pernah kelihatan. Mau ngapain lagi kalau bukan ngurus gue?” Tanganku menegang pada pegangan plastik. Aku tidak bergerak. Lalu kalimat berikutnya datang. Dan rasanya lebih dingin daripada air hujan yang menempel di bajuku. “Gue tinggal tahan beberapa bulan. Habis UTBK, gue cabut ke Jakarta.” Temannya bertanya tentang rumah. Galang menjawab tanpa ragu. “Rumah ini ya punya gue nanti.” Jantungku berhenti satu ketukan. “Kan rumah nyokap gue. Mira cuma numpang ngurus selama gue belum dewasa.” Temannya terdengar tertawa. “Terus tante lo?” Galang mendengus. “Nanti kasih aja dua puluh atau tiga puluh juta buat pindah. Masa dia masih mau nempel sama gue?” Plastik di tanganku hampir terlepas. Darah ayam menetes ke ujung sepatuku. Galang masih berbicara. “Bokap gue juga bilang begitu. Yang penting gue jangan ribut sekarang. Tunggu gue keterima kuliah, baru beresin pelan-pelan.” Bokap. Aku menatap pintu. Selama berbulan-bulan Galang berkata bahwa Arman tidak pernah menghubunginya. Ternyata mereka bicara. Bukan hanya bicara. Mereka membicarakan rumahku. Aku menarik napas, kemudian mendorong pintu. Galang buru-buru mematikan panggilan. Ekspresinya berubah biasa. “Tante, lama banget. Aku lapar.” Aku mengangkat kantong belanja. “Ayam.” “Oh.” Dia kembali membuka buku latihan. Seolah lima detik sebelumnya dia tidak sedang merencanakan bagaimana cara mengusirku. Aku masuk ke dapur. Mencuci ayam. Mengambil pisau. Tok. Tok. Tok. Suara pisau mengenai talenan terasa berbeda malam itu. “Tante.” “Apa?” “Minggu depan aku butuh sepatu basket baru.” “Yang sekarang?” “Udah jelek.” “Berapa?” “Sekitar dua juta.” Biasanya aku akan bertanya warna apa yang dia mau. Malam itu aku hanya menjawab, “Nanti lihat.” Galang menoleh. Mungkin baru pertama kali dalam sepuluh tahun dia mendengar kata “nanti” dariku. Saat makan, dia mengambil paha terbesar. Aku hanya makan nasi, tumis kangkung, dan sedikit kuah. “Tante enggak makan ayam?” “Enggak lapar.” Setelah selesai, Galang meletakkan piring di meja. Tidak membawanya ke wastafel. Tidak mengucapkan terima kasih. Tidak pernah. Malam itu aku tidak membereskan piringnya. Aku masuk ke kamar terkecil di rumah. Kamar utama sudah lama kuberikan kepada Galang karena dia membutuhkan meja belajar. Aku mengunci pintu. Kemudian menarik sebuah kotak dokumen dari bawah lemari. Di dalamnya ada sertifikat rumah. Namaku tercetak jelas. MIRA ADININGRUM. Tidak ada nama Ratih. Tidak ada nama Arman. Tidak ada nama Galang. Rumah itu kubeli tujuh tahun lalu dari hasil menjual tanah kecil peninggalan almarhum ayahku di Bantul, ditambah tabungan pribadiku selama empat tahun bekerja. Harga saat itu Rp685 juta. Aku masih menyimpan seluruh bukti pembayaran. Aku mengambil ponsel lama yang kusimpan di kotak yang sama. Bukan ponsel untuk WhatsApp keluarga. Di dalamnya ada aplikasi investasi, laporan keuangan, folder analisis saham, dan dokumen sebuah perusahaan teknologi bernama Arunika Data. Sepuluh tahun terakhir, setiap Galang tidur, aku belajar. Aku mengambil sertifikasi perpajakan. Mengikuti kelas financial modelling. Mengerjakan analisis keuangan freelance diam-diam. Aku menanam sebagian penghasilanku ke reksa dana dan saham. Aku juga pernah menanam Rp45 juta ke perusahaan rintisan milik sahabat kuliahku, Nisa, ketika perusahaan itu bahkan belum mempunyai kantor. Nilai investasiku sekarang sudah jauh lebih besar daripada yang diketahui siapa pun di rumah itu. Namun malam itu aku tidak membuka portofolioku. Aku membuka WhatsApp. Pesan masuk dari Nisa muncul pukul 22.17. “Mira, aku serius soal tawaranku. Kami butuh Head of Finance yang akan langsung naik menjadi CFO setelah pendanaan selesai. Datang ke Jakarta. Berhenti mengubur dirimu.” Aku belum membalas. Tiba-tiba terdengar pintu kamar Galang terbuka. Aku segera mematikan layar. Dia berjalan ke dapur mengambil air. Ponselnya tertinggal di meja makan. Layar menyala karena sebuah pesan masuk. Aku tidak menyentuhnya. Aku bahkan tidak perlu mendekat. Nama pengirim terlihat jelas dari tempatku berdiri. AYAH. Pesannya hanya satu baris. “Jangan sampai Mira tahu soal rencana rumah. Tunggu kamu selesai ujian.” Saat itu aku akhirnya mengerti. Penghinaan yang kudengar sore tadi bukan sekadar ocehan anak 18 tahun yang sedang pamer di depan temannya. Ada seseorang yang mengajarinya menunggu. Ada seseorang yang sedang menghitung kapan aku tidak lagi dibutuhkan. Dan orang itu adalah laki-laki yang meninggalkan anaknya sepuluh tahun lalu. Aku masuk kembali ke kamar. Kubuka pesan Nisa. Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mengetik dua kata yang tidak berhubungan dengan Galang. “Aku datang.” #DramaKeluarga #KisahKehidupan #CeritaIndonesia #PengorbananKeluarga #KarmaItuNyata
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.