Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

RINDU YANG TAK BERUJUNG

RINDU YANG TAK BERUJUNG gambar oleh Zahra Zahra
Namanya Kirana, umur 10 tahun. Ibunya sudah tidak ada 8 bulan. Orang-orang bilang, "Yang sabar ya, Na. Ibu sudah tenang di sana." Kirana mengangguk. Dia tidak nangis di depan orang. Tapi tiap malam dia tunggu Ibu pulang. Dulu, sebelum Ibu tiada, rumah mereka di Kota A selalu ramai. Ibu Kirana bukan ibu yang jago masak. Nasi gorengnya sering keasinan. Tapi Ibu punya kebiasaan: tiap Kirana pulang sekolah, Ibu selalu sudah duduk di dapur, pakai daster bunga-bunga, sambil bilang kalimat yang sama: "Cuci kaki dulu, Nduk. Habis itu cerita." Dan Kirana akan cerita semuanya. Tentang ulangan, tentang teman yang curang, tentang bekal yang tumpah. Ibu dengarkan sambil ngupas bawang. Sekarang, dapur itu sepi. Ayah kerja sampai malam. Kirana pulang sekolah, buka pintu sendiri, cuci kaki sendiri, tidak ada yang minta cerita. Sampai suatu sore, Kirana kangen sekali. Kangen yang sakit di dada, sampai susah napas. Dia masuk ke kamar Ibu. Baju-baju Ibu masih ada. Kirana ambil daster bunga-bunga yang paling sering Ibu pakai. Daster itu sudah tidak wangi parfum lagi, tapi wangi kayu lemari. Kirana pakai daster itu. Kebesaran. Lengannya sampai lutut. Dia jalan ke dapur, duduk di kursi tempat Ibu biasa duduk. Di depan kompor. Terus dia ngomong sendiri, pelan. "Bu... hari ini Kirana dapat 90 matematika. Bu Guru bilang Kirana pintar." Diam. "Terus bekal Kirana tadi tumpah lagi, Bu. Kayak masakan Ibu dulu yang keasinan itu lho." Dia ketawa sendiri, lalu nangis sendiri. "Bu, Kirana kangen. Kangennya banyak sekali sampai tidak muat di hati." Waktu Kirana nangis di dapur pakai daster kebesaran itu, Ayah pulang. Ayah lihat dari pintu dapur. Ayah tidak langsung masuk. Ayah berdiri lama, matanya merah. Lalu Ayah masuk, duduk di lantai, di depan Kirana. Ayah tidak bilang "jangan nangis". Ayah tidak bilang "yang sabar". Ayah cuma bilang, "Ceritanya lanjutannya gimana, Nduk? Yang bekal tumpah tadi? Ayah belum dengar." Kirana lihat Ayah. Lalu dia cerita lagi, sambil masih pakai daster Ibu, sambil masih nangis. Dan sore itu, untuk pertama kalinya setelah 8 bulan, dapur mereka berisik lagi. Bukan karena masakan Ibu. Tapi karena ada anak perempuan yang akhirnya berani cerita rindu, dan ada Ayah yang akhirnya belajar mendengarkan seperti Ibu. Malamnya sebelum tidur, Kirana lipat daster itu rapi-rapi. Dia tidak simpan di lemari. Dia taruh di kursi dapur. Dia bisik ke daster itu, "Bu, besok Kirana pakai lagi ya kalau kangen. Ibu di sini aja, di dapur, jangan pergi." Dan daster itu diam, tapi Kirana merasa, Ibu mengangguk. Karena ternyata, Ibu tidak benar-benar tiada. Ibu cuma pindah rumah. Dari kamar, ke dapur, ke dalam hati Kirana yang akan dia bawa kemana pun dia pergi nanti.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

5 Komentar