Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Rian Mendekat, Membaca Papan Nama Kecil Di Samping Bingkai: "Suara Yang
Tertunda".
"Kamu menyukainya?" sebuah suara lembut terdengar dari belakang Rian.
Saat Rian menoleh, jantungnya seakan berhenti berdetak. Berdiri di sampingnya adalah seorang perempuan nyata, mengenakan gaun putih sederhana. Yang membuat Rian terpaku bukanlah gaunnya, melainkan wajah cewek itu. Matanya yang bulat berbinar, dan ketika dia menyadari Rian menatapnya dengan heran, dia refleks menutup mulutnya yang membentuk huruf 'O' kecil karena terkejut. Dia adalah model sekaligus pelukis dari karya tersebut.
"Ekspresi bibir 'O' di lukisan ini," kata cewek itu sambil tersenyum tipis, "adalah momen ketika kata 'oh'—sebuah kesadaran instan—muncul dalam hidup kita. Saat kita sadar bahwa ada keindahan yang luput dari pandangan, atau saat kita kehilangan sesuatu sebelum sempat mengucapkan kata selamat tinggal."
Pertemuan tak sengaja di depan gambar cewek berbibir 'O' itu menjadi awal dari cerita panjang mereka. Lewat lukisan tersebut, Rian tidak hanya menemukan sebuah karya seni yang memikat mata, tetapi juga menemukan seseorang yang mengajarkannya cara melihat dunia dengan rasa takjub yang jujur.