Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Pencuri Jiwa Di Jantung Kutukan

Pencuri Jiwa Di Jantung Kutukan gambar oleh Ahmad Butros Zulfikar
​Epilog: Diujung Fajar Cahaya keemasan fajar memecah kepekatan di atas Lembah Solaria, menyapu bersih sisa-sisa abu dan kabut beracun yang selama bertahun-tahun mencekam tanah tersebut. Langit yang tadinya kelam kini membentang bersih, dihiasi warna jingga lembut yang menandakan berakhirnya era kekelaman. ​Di tepi tebing kuil purba, dua sosok berdiri berdampingan menikmati embusan angin pagi yang kini terasa hangat dan menenangkan. ​Aeliana merentangkan telapak tangannya lebar-lebar. Tidak ada lagi dingin yang menusuk tulang atau rasa hampa yang mengancam merenggut nyawa di sekitarnya. Kulitnya kini bisa merasakan sentuhan lembut udara pagi. Di sebelah kanannya, Kaelen berdiri tanpa pelat zirah berat atau helm besi yang mengekang. Tubuhnya tidak lagi menyemburkan api liar yang menghanguskan; yang tersisa hanya kehangatan lembut layaknya bara arang yang menenangkan, mengalir selaras dengan detak jantung manusianya. ​Pengorbanan di altar Aethelgard tidak merenggut nyawa mereka, melainkan meleburkan kutukan dan api abadi itu menjadi harmoni kehidupan yang utuh. Mereka bukan lagi monster bayangan dan ksatria maut; mereka kini hanyalah dua jiwa yang akhirnya merdeka. ​"Kau tahu," bisik Kaelen sambil menoleh ke arah Aeliana, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, "dunia mengira kita adalah pahlawan yang menyelamatkan mereka dari Celah Abyss." ​Aeliana menoleh, membalas tatapan itu dengan binar hangat di matanya yang kini bebas dari bayang-bayang kesepian. Ia mengangkat tangannya, lalu dengan berani menyentuh pipi Kaelen secara langsung—tanpa ragu, tanpa rasa takut. ​Kulit mereka bersentuhan. Tidak ada kilatan maut, tidak ada asap putih, yang ada hanyalah aliran rasa damai yang sempurna. ​"Biarkan mereka berpikir demikian," jawab Aeliana lembut. "Bagi kita, kemenangan terbesar bukanlah menyelamatkan dunia..." Ia merapatkan jemarinya, menggenggam tangan Kaelen erat-erat. "...melainkan kesempatan untuk bisa saling menggenggam tanpa harus takut mati." ​Di bawah fajar yang baru menyingsing, bayangan dan api melebur dalam satu dekap abadi, menepis segala kutukan masa lalu dan memulai lembaran hidup yang selama ini mereka impikan dalam sunyi.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar
.