Oke, Ini Versi SUPER PANJANG - 2000 Kata. Aku Bikinin Caption Yang Kalau Orang
Aku berdiri lama di depan foto ini.
Bukan foto pemandangan mewah. Bukan gunung dengan kabut. Bukan pantai dengan sunset oranye. Hanya sebuah pohon Bougenville. Pohon Bunga Kertas yang tumbuh di pinggir jalan, di samping tembok bata yang sudah kusam, di atas tanah yang bahkan tidak rata, dengan dedaunan kering berserakan di bawahnya.
Tapi entah kenapa, dari semua foto yang ada di galeri HP ku, foto inilah yang paling lama aku tatap.
Mungkin karena dia jujur.
Di dunia yang sekarang semua orang berlomba-lomba terlihat sempurna, dengan filter Instagram, dengan feed yang harus estetik, dengan hidup yang harus terlihat selalu bahagia, pohon ini mengajarkan sesuatu yang sangat berlawanan. Dia tumbuh apa adanya. Batangnya miring, tidak tegak lurus seperti pohon-pohon di taman kota yang dirawat dinas pertamanan. Daunnya tidak semuanya hijau segar, ada yang menguning, ada yang berlubang dimakan ulat. Bunganya tidak merata, ada yang rimbun di atas, ada yang hanya satu dua kuntum di bawah. Tapi justru disitulah letak indahnya.
Dia tidak berusaha menjadi sempurna. Dia hanya berusaha untuk tetap hidup dan tetap mekar.
Kita sering lupa caranya seperti itu.
Kita manusia, apalagi kita yang hidup di kota seperti Samarinda ini, yang setiap hari dikejar deadline kurir, dikejar orderan, dikejar target, dikejar omongan tetangga, kita sering merasa harus selalu mekar di tempat terbaik. Harus punya rumah bagus dulu baru boleh bahagia. Harus punya motor baru dulu baru boleh bangga. Harus sudah sukses dulu baru boleh cerita. Padahal Bougenville ini membuktikan sebaliknya.
Lihat dimana dia tumbuh. Bukan di pot mahal dari keramik. Bukan di halaman rumah mewah dengan tukang kebun pribadi. Dia tumbuh di tanah liar. Di samping tumpukan daun kering. Di sebelah bangunan setengah jadi yang batanya masih kelihatan. Tempat yang kalau manusia ditaruh di situ mungkin akan langsung mengeluh, "Kenapa nasibku begini amat?"
Tapi dia tidak mengeluh. Akarnya tetap menghujam dalam. Batangnya tetap mencari matahari. Dan ketika waktunya tiba, dia meledakkan warna pink paling berani yang pernah aku lihat. Warna pink yang kalau di dunia fashion disebut magenta, fuchsia, warna yang tidak malu-malu untuk terlihat.
Itulah pelajaran pertama dari Bougenville: Jangan tunggu tempatmu ideal baru kamu mau bertumbuh.
Banyak dari kita menunda bahagia. "Nanti kalau sudah gajian aku baru senang." "Nanti kalau sudah nikah aku baru tenang." "Nanti kalau anak sudah besar aku baru bisa istirahat." Kita terus menunda mekar. Padahal hidup tidak pernah benar-benar ideal. Akan selalu ada tembok kusam di sebelah kita. Akan selalu ada tanah kering di bawah kita. Akan selalu ada musim hujan yang bikin becek dan musim panas yang bikin layu.
Tapi kalau kamu tetap memutuskan untuk mekar hari ini, dengan apa yang kamu punya hari ini, kamu sudah memenangkan separuh dari peperangan hidup.
Pelajaran kedua: Cantik itu tidak harus wangi.
Bougenville itu kalau dicium tidak wangi seperti mawar. Tidak seharum melati. Bahkan hampir tidak ada baunya. Tapi orang tetap berhenti untuk melihatnya. Kenapa? Karena warnanya tulus.
Di hidup ini, kita tidak harus menjadi orang yang paling pandai bicara, paling jago bergaul, paling harum namanya di mana-mana untuk bisa berharga. Cukup jadi orang yang tulus. Tulus bekerja sebagai kurir amanah. Tulus mengantar paket orang. Tulus menyapa tetangga. Ketulusan itu warnanya terlihat, bahkan tanpa harus berisik.
Aku ingat dulu waktu kecil, di depan rumah nenek di kampung juga ada pohon seperti ini. Nenek bilang, "Bunga kertas ini bunga orang sabar." Aku tanya kenapa. Nenek jawab, "Karena dia mau dipangkas kayak apa pun, mau diinjak, mau kepanasan, dia tetap tumbuh lagi. Dia tidak dendam sama gunting."
Betapa dalamnya.
Berapa kali dalam hidup kita dipangkas oleh keadaan? Dipotong rezekinya, dipotong mimpinya, dipotong kepercayaannya oleh orang lain. Rasanya sakit. Rasanya ingin berhenti tumbuh saja. Tapi lihat Bougenville. Setiap kali dipangkas, dia justru tumbuh lebih rimbun. Setiap kali dipotong, cabangnya justru bercabang dua, tiga, empat. Luka pangkasan justru menjadi jalan lahirnya bunga-bunga baru.
Jadi kalau hari ini kamu sedang merasa habis dipangkas oleh hidup - mungkin usahamu lagi sepi, mungkin hubunganmu lagi retak, mungkin kamu lagi capek jadi tulang punggung - ingat pohon ini. Jangan anggap pangkasan itu sebagai akhir. Anggap itu sebagai cara Tuhan membuatmu lebih rimbun nanti.
Dan pelajaran ketiga yang paling aku suka: Dia tumbuh miring tapi tetap menjulang.
Batang utama pohon di foto ini miring. Tidak lurus. Kalau tukang kayu lihat, mungkin dianggap cacat. Tapi dia tidak peduli. Dari kemiringan itu, dia tetap menjulurkan cabang-cabangnya ke atas, mengejar langit. Dia tidak memaksa dirinya untuk lurus seperti pohon lain. Dia menerima kemiringannya, dan tetap tumbuh dari situ.
Kita semua punya kemiringan dalam hidup. Masa lalu yang tidak sempurna. Keluarga yang tidak utuh. Pendidikan yang tidak tinggi. Modal yang tidak banyak. Kita sering malu dengan kemiringan kita. Kita tutupi. Kita pura-pura lurus.
Padahal tidak perlu. Terimalah miringmu. Dan tumbuh lah dari situ. Orang tidak akan menilai seberapa lurus batangmu, orang akan melihat seberapa indah bunga yang kamu hasilkan dari batang yang miring itu.
Foto ini aku ambil di sore yang mendung. Langitnya putih, tidak biru. Cahayanya tidak dramatis. Kalau fotografer profesional lihat, mungkin ini foto yang gagal. Komposisinya tidak rule of third, tidak ada leading line yang sempurna. Tapi buat aku, ini foto paling jujur tentang hidup.
Hidup memang tidak selalu dengan langit biru. Seringnya mendung. Seringnya abu-abu. Tapi bunga tetap harus mekar, bahkan di bawah langit mendung sekalipun. Karena tugas bunga bukan menunggu langit biru, tugasnya adalah mekar.
Jadi untuk siapapun yang hari ini membaca caption panjang ini sampai habis - yang mungkin lagi di fase capek, lagi ngerasa tumbuh di tempat yang salah, lagi ngerasa tidak dilihat, tidak dihargai, tidak wangi seperti mawar -
Aku mau bilang: Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa kalau pertumbuhanmu lambat.
Tidak apa-apa kalau tempatmu sekarang belum ideal.
Tidak apa-apa kalau kamu tidak se-wangi dan se-harum orang lain.
Tetaplah jadi Bougenville.
Tetap tumbuh di tempat yang orang anggap remeh.
Tetap keluarkan warna terbaikmu, bahkan saat tidak ada yang memuji.
Tetap berdiri, bahkan saat batangmu miring.
Karena suatu hari, akan ada seseorang seperti aku, yang sedang lelah dalam perjalanan, yang tidak sengaja lewat di depanmu, dan kemudian berhenti. Hanya karena melihatmu mekar dengan begitu berani.
Dan pada saat itu, kamu akan sadar, bahwa mekar mu selama ini tidak pernah sia-sia.
Terima kasih sudah mekar, wahai Bougenville pinggir jalan.
Terima kasih sudah mengingatkanku caranya bertahan.
Lokasi: Sebuah sudut sepi di Samarinda.
Waktu: Sore yang mendung tapi penuh makna.
#SamarindaStory #Bougenville #BungaKertas #FilosofiHidup #Healing #CatatanBangAbeng #Samarinda #Kaltim #PuisiSore #JanganLupaMekar