Arifin
16 jam

Oke, Ini Cerita Dewasa Tentang Jatuh Cinta — Bukan Cinta Monyet Lagi, Tapi Cinta

Oke, Ini Cerita Dewasa Tentang Jatuh Cinta — Bukan Cinta Monyet Lagi, Tapi Cinta gambar oleh Arifin
yang pelan, matang, dan agak ribet karena kehidupan orang dewasa. *PASAR JAM 5 SORE* Namanya Raga, 32 tahun. Baru pindah ke Bandung setelah 6 tahun di Jakarta. Kerja remote, hidupnya sederhana. Rutinitasnya tiap Selasa dan Jumat sore: belanja di Pasar Margasari dekat kosnya. Di lapak ujung, ada perempuan yang selalu jaga lapak bunga dan sayur. Namanya Sinta, 29 tahun. Tidak terlalu banyak bicara, tapi kalau senyum, matanya ikut senyum. Awalnya cuma transaksi biasa. "Bunga melatinya berapa?" "10 ribu, a." "Yang masih kuncup ada?" "Ada. Buat siapa?" Raga agak kaku. "Buat... meja kerja. Biar gak stres." Minggu kedua, Raga mulai alasan. Beli bawang yang masih banyak di kulkas. Beli cabai padahal gak masak pedas. Minggu ketiga, Sinta yang mulai duluan. "Kamu tiap kesini beli bunga melati terus, tapi bunganya gak pernah kamu bawa pulang ya? Kemarin aku lihat kamu kasih ke ibu yang jualan tempe di depan." Raga ketahuan. Dia memang selalu beli dua ikat. Satu buat mejanya, satu diam-diam dia titip buat Ibu Tempe yang dagangannya sering gak habis. Sinta ketawa. Pertama kalinya Raga dengar tawanya agak lama. Sejak itu mereka ngobrol lebih lama. Tentang kenapa Sinta milih jaga pasar padahal sarjana pertanian. Tentang kenapa Raga milih pulang ke Bandung padahal karir di Jakarta lagi naik. "Kamu gak takut dibilang gagal?" tanya Sinta suatu sore pas pasar udah sepi. "Takut," jawab Raga jujur. "Tapi lebih takut kalau terus ngejar yang bikin aku gak kenal diri sendiri." Jatuh cintanya orang dewasa tidak berdebar-debar seperti di film. Tidak ada lari hujan-hujanan. Adanya: Raga yang datang lebih awal bantu Sinta angkat peti sayur dari pickup. Sinta yang nyisihin alpukat paling matang buat Raga tanpa diminta. Duduk berdua di balai pasar sambil minum teh tawar dari termos, ngomongin harga cabai yang naik dan mimpi kecil punya kebun di Lembang. Suatu Jumat, Raga datang tidak bawa tas belanja. Bawa satu buket kecil, bukan melati, tapi krisan putih campur baby breath. "Buat apa?" Sinta bingung. "Buat pacar penjual bunga," kata Raga, suaranya agak gemetar padahal umur 32. "Kalau boleh." Sinta diam lama. Lalu dia ambil buket itu, taruh di ember dagangannya biar tetap segar. "Boleh," katanya pelan. "Tapi jangan cuma belinya Jumat aja. Selasa juga harus kesini." Dan sejak itu, Pasar Margasari punya satu pemandangan baru: lapak bunga yang tutup 15 menit lebih lambat setiap Selasa dan Jumat, karena penjual dan pembelinya masih sibuk cerita di belakang lapak. Mau aku lanjutin cerita mereka pas udah jadian? Versi tinggal bareng dan buka lapak bareng?
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.