Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
OJEK ONLINE JAM 2 PAGI DI KENJERAN*
Aku pulang kerja shift malam dari Pakuwon, order ojek online jam 02.17 pagi. Dapat driver, namanya Pak Slamet, motor Beat hitam, nopol W 4321 XX. Aku naik. Sepanjang jalan Kenjeran sepi banget, kabut tebal. Aku merasa motornya berat, seperti bawa 3 orang. Aku lihat spion, tidak ada siapa-siapa di belakangku. Tiba-tiba drivernya ngomong, tanpa menoleh, "Dik, jangan liat spion belakang ya. Apa pun yang terjadi, jangan liat." Jantungku langsung berdebar. Kenapa? Dari ekor mataku, di spion kanan, aku lihat ada perempuan duduk di belakangku. Rambutnya panjang menutupi wajah, baju putih kotor basah. Kakinya tidak ada, yang ada darah menetes-netes di knalpot. Aku pura-pura tidak lihat. Tapi perempuan itu semakin maju, kepalanya sekarang di bahuku. Bau amis ikan busuk menusuk hidung. "Mas... kok boncengan bertiga tidak bilang?" suara driver bergetar. Aku baru sadar, di spion kiri ada lagi sosok anak kecil duduk di stang motor, kakinya menggantung, kepalanya muter 180 derajat menatapku sambil ketawa. Motor berhenti mendadak di Jembatan Kenjeran yang gelap. Driver lompat turun dan lari, ninggalin motornya. "Maaf dik, aku cuma disuruh antar mereka! Mereka yang order, bukan kamu!" Aku lihat HP. Orderanku tiba-tiba tercancel. Diganti nama pemesan: Siti & Anak, Tujuan: Laut. Perempuan di belakangku berbisik di telingaku, dingin, "Udah sampai, kak. Ayo ikut berenang sama kami." Air laut di bawah jembatan bergolak, banyak tangan-tangan pucat melambai ke atasku. Aku lari, ninggalin semua. Sampai kos, aku cek aplikasi. Ada rating bintang 5 untukku dari driver: "Terima kasih sudah mau menemani istri dan anak saya yang meninggal tabrak lari di Kenjeran tahun lalu. Mereka kangen diantar pulang."