Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Malam Itu, Jam Dinding Antik Di Ruang Tamu Menunjukkan Tepat Pukul 00:00. Hujan
Gerimis Baru Saja Reda, Meninggalkan Aroma Tanah Basah Yang Pekat Bercampur Bau Melati Yang Entah Datang Dari Mana. Bagas, Seorang Arsitek Muda Yang Tengah Lembur Merampungkan Desain Renovasi Rumah Tua Milik Kliennya, Meregangkan Otot Lehernya Yang Kaku. Rumah warisan kolonial itu terletak di ujung sebuah desa di lereng gunung. Ukurannya besar, berlantai dua, dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela kaca nako besar yang berderit setiap kali angin malam berhembus. Bagas sebenarnya sudah diperingatkan oleh penjaga malam agar tidak bekerja di dalam rumah setelah lewat tengah malam. "Rumah ini punya aturan sendiri," kata si penjaga malam dengan suara berbisik serak. Tapi Bagas, yang logis dan tidak percaya takhayul, mengabaikannya demi mengejar tenggat waktu.
Suara ketukan halus mengagetkannya.
Tok... tok... tok...
Bagas menoleh ke arah pintu ruang kerja yang terbuka separuh. Cahaya lampu meja kerjanya yang kuning temaram hanya mampu menerangi sebagian ruangan, sementara lorong di luar tampak gulita.
"Halo? Siapa di sana?" panggil Bagas. Tidak ada jawaban.
Ia bangkit, berjalan pelan menghampiri pintu. Saat ia melangkah keluar ke lorong, ia melihat bayangan putih sekilas berkelebat menuruni tangga kayu menuju lantai dasar. Penasaran bercampur sedikit rasa ngeri, Bagas mengikuti bayangan itu. Setiap kali ia melangkah, lantai kayu di bawah kakinya memantulkan bunyi derit yang nyaring—kriet... kriet...—seolah ada yang sengaja menandai setiap gerakannya.
Sesampainya di lantai bawah, suasana terasa jauh lebih dingin. Udara di sana terasa berat, seolah oksigen terserap habis. Tiba-tiba, ia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi di ujung lorong belakang. Pintunya sedikit terbuka, dan seberkas cahaya biru remang-remang terpancar dari celahnya.
Bagas mendekat, lalu mendorong pintu perlahan. Jantungnya mendadak ber