Tasya Putri
51 menit
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

*LUKA YANG TIDAK PULANG*

*LUKA YANG TIDAK PULANG* gambar oleh Tasya Putri
Rumah itu sudah tidak punya jam dinding sejak Ibu meninggal. Bukan karena rusak. Ayah sengaja melepasnya. "Kalau tidak ada jam, waktu tidak akan mengejar kita," katanya malam itu. Aku yang waktu itu umur 16 tahun, hanya mengangguk. Padahal aku tahu, Ayah hanya takut mendengar detik yang mengingatkannya bahwa Ibu sudah tidak akan pulang lagi. Tiga tahun berlalu. Aku merantau ke Bandung. Ayah tetap di rumah itu, di Garut, bersama jam dinding yang tidak ada. Setiap minggu aku menelepon. "Sehat, Yah?" "Sehat." "Sudah makan?" "Sudah." Selalu begitu. Pendek. Seperti dua orang asing yang dipaksa mengingat bahwa mereka sedarah. Sampai telepon minggu lalu tidak diangkat. Aku pulang dengan travel paling pagi. Rumah itu masih sama. Pintu kayunya masih berderit. Tapi ada yang berbeda. Di ruang tamu, jam dinding itu tergantung lagi. Bergerak. Berdetak. Ayah duduk di bawahnya. "Ayah pasang lagi?" tanyaku. Ayah menatapku lama. Matanya merah. "Tadi malam, Ayah mimpi Ibumu," bisiknya. "Dia marah. Katanya, kenapa waktunya kamu hentikan? Anakmu masih butuh waktu untuk pulang." Aku tidak bisa menahan air mata. Selama ini aku pikir akulah yang kehilangan Ibu. Ternyata Ayah kehilangan dua orang sekaligus. Ibu, dan aku yang pergi karena tidak tahan melihat Ayah yang terus berduka. Aku memeluknya. Pertama kali setelah tiga tahun. Jam itu terus berdetak. Tik. Tak. Tik. Tak. Untuk pertama kalinya, suaranya tidak lagi menakutkan. Suaranya seperti berkata: tidak apa-apa untuk melanjutkan. Malam itu, kami makan berdua. Tidak banyak bicara. Tapi jam dinding tetap menyala, menemani kami. Dan untuk pertama kalinya, rumah itu terasa punya waktu lagi.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.