Luka Karena Selingkuh Tak Berdarah, Tapi Sakitnya Sampai Ke Tulang

Luka Karena Selingkuh Tak Berdarah, Tapi Sakitnya Sampai Ke Tulang gambar oleh Celine Zee
Luka karena selingkuh itu tidak berdarah. Tidak ada perban, tidak ada obat merah, tidak ada jahitan. Tapi kenapa sakitnya bisa lebih perih daripada luka fisik? Karena yang terluka bukan kulit, tapi hati dan kepercayaan. Aku menulis ini bukan untuk membuka aib siapa pun. Aku menulis ini untuk kamu, wanita hebat yang mungkin saat ini sedang menahan tangis diam-diam. Yang pura-pura kuat di depan anak-anak, tapi hancur di dalam kamar mandi. Selingkuh itu bukan hanya tentang orang ketiga. Selingkuh itu tentang janji yang dikhianati. Tentang kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun, runtuh hanya dalam satu malam. Masih ingat pertama kali kamu tahu? Dunia rasanya berhenti. Jantung berdebar kencang, tangan gemetar, napas sesak. Kamu bolak-balik cek HP suami, berharap itu hanya salah paham. Kamu berharap namanya yang muncul di chat itu hanya teman kerja. Tapi hati kecilmu tahu, ada yang tidak beres. Dan yang paling menyakitkan bukan saat kamu menemukan buktinya. Yang paling menyakitkan adalah saat dia masih berusaha berbohong. Saat dia menatap matamu dan bilang "Kamu kelewat curiga" padahal jelas-jelas dia yang salah. Luka karena selingkuh itu tak berdarah, tapi efeknya kemana-mana. Pertama, kamu jadi kehilangan diri sendiri. Kamu yang dulu percaya diri, sekarang jadi suka bertanya-tanya. "Apakah aku kurang cantik? Apakah aku kurang baik? Apakah masakanku tidak enak?" Padahal Mbak, perselingkuhan itu bukan salahmu. Itu adalah pilihan dia. Kekuranganmu bukan alasan untuk dia berkhianat. Jika memang ada yang kurang, seharusnya dibicarakan, bukan dicari di luar. Kedua, kamu jadi takut. Takut ditinggalkan, takut anak-anak jadi korban, takut omongan tetangga. Di kampung seperti kita omongan orang kadang lebih tajam dari pisau. "Kasihan ya suaminya selingkuh." Kalimat kasihan itu justru yang membuat luka makin perih. Ketiga, luka itu membuatmu susah tidur. Malam-malam kamu terjaga, memikirkan masa depan. Memikirkan apakah rumah tangga ini masih bisa diselamatkan? Apakah cinta itu masih ada? Atau hanya tersisa kewajiban? Lalu apa yang harus kita lakukan, sebagai wanita? Aku tidak akan bilang "sabar ya" saja, karena aku tahu sabar itu tidak semudah itu. Tapi ada beberapa langkah yang bisa kita coba untuk menyembuhkan luka yang tak berdarah ini. 1. Beri Waktu Untuk Menangis. Jangan ditahan. Menangis bukan berarti lemah. Menangis adalah cara tubuh kita mengeluarkan racun kesedihan. Menangislah, keluarkan semua. Setelah itu, cuci muka, dan tarik napas panjang. Kamu berhak untuk sedih. 2. Jangan Menyalahkan Diri Sendiri Terus. Berhenti mengukur dirimu dengan wanita lain. Kamu itu berharga. Kamu adalah ibu dari anak-anakmu, kamu adalah wanita yang sudah berjuang dari nol menemani suami. Nilai dirimu tidak ditentukan dari kesetiaan orang lain kepadamu. Nilai dirimu ditentukan dari bagaimana kamu tetap berdiri meski disakiti. 3. Bicara Dengan Orang Yang Aman. Jangan pendam sendiri. Cari satu orang yang benar-benar bisa dipercaya. Bisa ibu, bisa kakak, bisa teman dekat. Jika tidak ada, bicaralah kepada Allah dalam doa. Curhatkan semua di sepertiga malam. Allah Maha Mendengar, bahkan bisikan hati yang paling pelan. 4. Fokus Pada Apa Yang Bisa Kamu Kontrol. Kamu tidak bisa mengontrol perilaku suamimu. Tapi kamu bisa mengontrol dirimu. Kamu bisa mengontrol untuk tetap merawat diri, tetap makan yang enak, tetap belajar hal baru. Seperti yang sedang kita lakukan sekarang, belajar mencari rezeki dari Zoyalink. Ini adalah salah satu cara untuk membuatmu kembali berdaya. Saat kamu punya penghasilan sendiri, kamu punya pilihan dan punya kekuatan. 5. Putuskan Dengan Kepala Dingin, Bukan Dengan Emosi Sesat. Apakah akan bertahan atau melepaskan, itu keputusan besarmu. Tidak ada yang boleh memaksa. Jika bertahan, beri syarat yang jelas dan butuh proses. Kepercayaan itu seperti kaca, jika pecah bisa direkatkan lagi tapi retakannya akan tetap ada. Butuh waktu lama untuk benar-benar pulih. Jika memilih pergi, itu juga bukan aib. Itu adalah bentuk sayangmu pada dirimu sendiri. luka karena selingkuh tak berdarah, tapi ia mengajarkan kita satu hal penting. Bahwa cinta terbesar seharusnya kita berikan dulu kepada diri sendiri. Sebelum kita mencintai suami, anak, keluarga, cintai dulu dirimu. Rawat dirimu. Jangan biarkan satu pengkhianatan membuatmu membenci semua laki-laki. Jangan biarkan satu luka membuatmu menutup hati selamanya. Masih banyak kebaikan di dunia ini. Anak-anakmu masih butuh senyum tulusmu. Hari ini mungkin kamu masih sakit. Tidak apa-apa. Penyembuhan itu tidak instan. Ada hari dimana kamu sudah tertawa, eh besoknya nangis lagi karena teringat sesuatu. Itu wajar. Itu proses. Ingat pesan ini.... Kamu bukan wanita yang rusak karena diselingkuhi. Kamu adalah wanita yang kuat karena kamu mampu bertahan dari luka yang tidak terlihat oleh orang lain. Jika hari ini kamu sedang di fase ini, kirim tulisan ini ke dirimu sendiri. Peluk dirimu sendiri. Katakan, "Aku hebat, aku sudah melewati badai yang orang lain tidak tahu." Dan untuk para suami yang mungkin membaca ini, jagalah kepercayaan istrimu. Karena sekali kamu mengkhianatinya, kamu tidak hanya menyakiti hatinya, kamu membunuh rasa aman yang selama ini dia titipkan padamu. Selingkuh itu enak sesaat, tapi penyesalannya seumur hidup. Semoga tulisan ini sampai kepada wanita yang membutuhkannya. Jika kamu merasakannya, kamu tidak sendirian. Kita sesama wanita hebat saling menguatkan. Tetap semangat ya . Luka ini tak berdarah, tapi kamu akan sembuh. Perlahan, pasti. ---
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar
.