Musri Drama
4 hari
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Legenda Batu Pelindung Dari Buton

Legenda Batu Pelindung Dari Buton gambar oleh Musri Drama
(Cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara) Dulu, di daerah pesisir Pulau Buton, tinggal seorang gadis bernama Sani, yang dikenal lembut dan penyayang. Ia hidup bersama kakeknya, seorang pengukir batu tua yang dihormati di desa. Kakeknya selalu berkata, “Batu tak hanya keras. Ia menyimpan ingatan bumi dan mendengar doa yang tulus.” Desa mereka dekat pantai dan kerap diterpa badai. Banyak orang percaya bahwa desa itu dilindungi oleh Batu O’kanda, batu besar hitam yang berdiri di tepi pantai. Setiap kali gelombang besar datang, ombak selalu pecah di sekitar batu itu dan mereda sebelum mencapai rumah penduduk. Suatu hari, datang orang-orang dari kota. Mereka ingin memindahkan Batu O’kanda ke taman wisata di pusat kota. “Batu ini indah dan bersejarah. Akan lebih berguna kalau dilihat banyak orang,” kata mereka. Beberapa warga desa setuju karena dijanjikan bayaran besar. Namun Sani merasa tidak tenang. Malam itu, ia bermimpi. Dalam mimpinya, Batu O’kanda berbicara. “Aku telah menjaga tempat ini selama ratusan tahun. Jika aku dipindahkan, tidak hanya aku yang pergi, tapi juga perlindungan yang kuberikan.” Ketika bangun, Sani segera berlari ke balai desa dan memohon agar batu itu tidak diambil. Tapi mereka mengabaikannya. Esok harinya, truk dan alat berat datang. Saat rantai baja melilit batu, langit mendadak gelap. Angin kencang bertiup dan ombak besar menggulung pantai. Orang-orang ketakutan. Tapi batu itu tetap diam, seolah menunggu pilihan mereka. Melihat semua itu, Sani berdiri di depan batu dan berseru, “Kalau Batu O’kanda harus pergi, biarkan aku tinggal menggantikannya!” Tiba-tiba badai berhenti. Awan membuka sedikit, dan cahaya jatuh ke arah batu. Rantai baja terlepas sendiri. Orang-orang diam. Mereka sadar—batu itu bukan benda biasa. Akhirnya, Batu O’kanda tetap di tempatnya. Orang-orang meminta maaf, dan sejak saat itu, batu itu diberi sesajen bunga setiap bulan purnama sebagai bentuk penghormatan. Sani tumbuh menjadi penjaga pantai dan alam. Ia mengajar anak-anak tentang pentingnya menjaga warisan, bukan hanya karena bentuknya indah, tapi karena maknanya dalam. Pesan moral: Tidak semua yang indah harus dipindahkan untuk dikagumi. Kadang, kekuatan sejati ada pada tempat di mana sesuatu itu berasal. Belajarlah mendengar suara yang tak bersuara—suara alam dan warisan yang tak ternilai.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.