Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Kisah Cerita Rumah Kecil Di Tepi Danau

Kisah "Rumah Kecil di Tepi Danau Bulan" Di sebuah lembah yang tenang, berdiri sebuah rumah kayu kecil yang dikelilingi oleh pepohonan pinus. Di depan rumah itu, terdapat sebuah danau kecil yang airnya tenang, memantulkan cahaya bulan sabit dan bintang-bintang di langit. Setiap kali malam tiba dan jarum jam menunjuk ke waktu istirahat, angin malam berhembus pelan. Suaranya lembut, seperti siulan halus yang menyapu ujung daun-daun pinus. Di dalam rumah itu, tinggallah seorang pengukir kayu tua bernama Kakek Aris. Setiap malam sebelum tidur, Kakek Aris memiliki satu kebiasaan sederhana: ia duduk di beranda, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia membayangkan segala lelah, keraguan, dan pikiran tentang hari ini larut bersama angin malam. "Malam bukan untuk membawa beban," gumam Kakek Aris pelan kepada dirinya sendiri, "malam adalah waktu bagi bumi dan tubuh kita untuk bernapas kembali." Ia melangkah masuk ke kamarnya yang temaram. Kasurnya empuk, selimutnya hangat. Saat ia memejamkan mata, kegelapan di balik kelopak matanya berubah menjadi layar yang tenang. Ia membayangkan air danau yang bergelombang kecil, lalu perlahan-lahan semakin tenang, hingga rata dan damai. Pikirannya ikut melambat, mengikuti irama napasnya yang teratur. Bahunya yang tegang mencair, telapak tangannya terasa ringan, dan kantuk mulai menyelimuti ujung jarinya. Dalam hitungan menit, Kakek Aris sudah hanyut dalam lelap, ditemani keheningan malam yang menjaga tidurnya hingga pagi tiba.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

3 Komentar