Nur Hayati
57 menit
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

"KAMI PERNAH DUDUK BERDAMPINGAN..." PADAHAL RAGA KAMI TAK PERNAH BERJUMPA

"KAMI PERNAH DUDUK BERDAMPINGAN..." PADAHAL RAGA KAMI TAK PERNAH BERJUMPA gambar oleh Nur Hayati
SEKALIPUN! (Niskala & Lazuardi-2) Banyak yang bertanya bagaimana benang-benang batin ini pertama kali terajut. Sore ini, sebuah pesan dari Niskala membawa ingatanku kembali ke stasiun awal—tempat seluruh perjalanan ini bermula... Sore itu berjalan lambat dan tenang. Aku duduk di hadapan layar laptop, hanyut dalam rutinitas senja yang membuai. Jemariku menelusuri dashboard akun media sosialku, membalas satu per satu komentar hangat dari pembaca yang larut dalam kisah-kisah yang kuposting. Sesekali aku meraih cangkir di samping keyboard, menyeruput kopi hitam yang mulai dingin—namun rasa pahitnya yang tersisa justru terasa pas menemani suasana. Saat mengklik kotak masuk Messenger, perhatianku langsung tersedot pada satu baris di tumpukan pesan paling atas. Sebuah nama yang selalu sanggup menghentikan detak ritme duniaku sejenak: Niskala. Dengan senyum tipis yang terbit perlahan, aku membuka pesan itu dan meresapi bait demi bait yang dikirimkan oleh sang pemilik jiwa: THE SOVEREIGN TRAIN OF MY SOUL (Akulah Perjalanan, Akulah Keretanya) Akulah keretanya, dan aku telah belajar untuk tidak pernah memberikan tempat duduk kepada siapa yang tidak mengerti perjalananku ini. 🚆 Seseorang pernah berkata padaku: "Sudah lama sekali kamu sendiri. Kamu akan kehilangan kesempatanmu." Dan aku tersenyum. Bukan karena angkuh, melainkan karena yakin. Temanku... Aku tidak sedang menunggu kereta. Akulah keretanya. Akulah yang tidak berangkat sembarang waktu, dan tidak berhenti di stasiun yang sepi. Akulah yang telah belajar bahwa tidak setiap penumpang berhak mendapatkan tempat duduk, dan tidak semua orang tahu cara menghargai perjalanan ini. Lama sekali aku percaya bahwa sendiri berarti tidak utuh, sampai aku sadar bahwa kesendirian, jika dirangkul, adalah sebuah rumah—bukan hukuman. Bahwa lebih baik menempuh perjalanan seorang diri, daripada ditemani oleh siapa yang tidak mau peduli, yang tidak mau mendengarkan. Akulah yang memutuskan siapa yang boleh naik, siapa yang harus turun, dan kapan waktunya. Karena aku bukan hanya mau menerima orang yang sekadar ingin ikut serta, melainkan mereka yang tahu cara untuk tetap tinggal tanpa menghancurkan sesuatu di dalam diriku. Aku tidak terlambat. Aku bergerak sesuai iramaku sendiri. Dan jika suatu hari nanti ada yang ikut naik, biarlah itu untuk jadi teman perjalanan yang tidak mengubah tujuan akhirku. Karena cinta bukanlah soal terburu-buru. Cinta adalah tentang bertemu di waktu yang tepat. Dan aku... telah belajar untuk tidak memberikan tempat dudukku kepada orang yang tidak mengerti aku. Sampai pada suatu waktu dalam perjalananku... Aku melihat seseorang di stasiun persinggahan. Dia naik dan berada satu gerbong denganku, bahkan duduk di sampingku. 💺💺 Aku mengamatinya, masih muda, mungkin beberapa tahun di bawah usiaku, dan dia menatapku. Aku tetap menjaga jarak, tidak bersentuhan, sama sekali tidak. Ternyata kita tidak satu tujuan, dan dalam percakapan sepanjang perjalanan itu, ada kebetulan yang betul-betul sama, dia penulis, sama sepertiku. Aku tenggelam dalam diskusi kami, sangat menarik! Namun selalu saja, waktu yang berbicara. Sebelum stasiun tujuannya, kami saling bertukar nomor kontak. Peluit berbunyi tanda kereta kami memasuki stasiun kota nisbi itu. Sebelum berpisah dia bertanya: "Maukah Kakak ikut berkontribusi dalam satu kisahku?" "Tentang apa?" tanyaku. "Persahabatan," jawabnya. "Kalau setuju, Kakak kirim di inbox ya!." "Ya, setuju," kataku. (Inilah awal dari seluruh kisah perjalananku, kisah tentang persahabatan jarak jauh yang membentuk aku...) Kereta berhenti. Dia turun... Lalu dia menghilang di antara desakan penumpang yang juga turun. Dan aku melanjutkan sisa perjalananku. Mungkin memang hanya sepanjang perjalanan, singkat saja... It's meant to be. Tapi dia telah menorehkan sesuatu. Dia menjadi teman seperjalananku walau hanya sejenak, namun ada satu janjiku untuk membuat satu tulisan untuk dia. Aku bertanya pada diriku, diakah teman perjalananku menuju stasiun terakhir yang masih terbentang di depan sana? Waktu yang akan menjawab! 🚆✨ Niskala❤️ ---- Aku tersenyum membaca pesan itu. Kami tak pernah benar-benar duduk di atas gerbong besi yang sama, tak ada tiket fisik yang pernah kami beli. Namun lewat pendar layar monitor ini, jiwaku benar-benar merasakan hembusan angin dari jendela kereta yang ia ceritakan. Di detik yang sama dadaku berdesir hebat. Ada getaran romantis yang begitu pekat dan menjalar halus hingga ke selasar batin. Betapa anggunnya Niskala menjaga kedaulatan jiwanya, namun begitu pasrah membiarkan takdir merajut benang-benang batin di antara kami. Sore yang tadinya biasa kini berubah menjadi ruang sakral. Tanpa ragu, jemariku menari di atas papan ketik, menuangkan aliran rasa yang tak lagi sanggup dibendung: TO THE SOVEREIGN VOYAGER OF MY HEART (Kepada Sang Pengembara Berdaulat di Hatiku) Niskala... Membaca pesanmu, aku seperti melihat sebuah mahakarya keteguhan yang berdiri begitu anggun di tengah badai dunia. Betapa indahnya caramu memeluk kesendirian—bukan sebagai keterasingan, melainkan istana megah tempat engkau menata irama dan arah hidupmu sendiri. Kereta jiwamu terlalu suci untuk sekadar ditumpangi oleh mereka yang sekadar singgah tanpa pernah mengerti betapa mewahnya harga sebuah perjalanan. Jangan pernah izinkan siapa pun menggeser tempat dudukmu, atau meredupkan pendar kedamaian yang telah engkau rawat di dalam dirimu. Mengenang stasiun persinggahan itu... dada ini selalu bergetar. Di antara jutaan takdir yang berseliweran di semesta maya, kita dipertemukan dalam satu gerbong gagasan yang sama. Kita memang tak pernah saling bertatap raga, tak pernah ada jemari yang bersentuhan di dunia nyata. Namun di sana, dalam percakapan dua penulis yang saling menghormati, rasa ini tumbuh begitu jernih, tulus, dan menyejukkan. Aku mungkin tampak seperti penumpang yang melangkah turun di stasiun tujuan, lalu menghilang di riuhnya kerumunan dunia. Namun ketahuilah, Niskala... dalam ruang rasa dan doa, aku tidak pernah benar-benar pergi. Janji tulisan yang kita sepakati hari itu telah melintasi batas waktu. Aku tak pernah menuntut tempat duduk di samping ragamu, sebab diizinkan hadir di dalam doa-doamu dan ikut menjaga kedamaian perjalananmu saja sudah menjadi anugerah paling romantis yang pernah kudapatkan. Mengenai pertanyaanmu di akhir pesan... apakah aku teman perjalananmu menuju stasiun terakhir? Biar kuusap Rindu itu dengan tenang: Biarlah waktu yang merawat jawabannya. Aku tidak akan terburu-buru, tidak akan menuntut, dan tak akan pernah merusak keindahan perjalanan yang sedang engkau tempuh. Jika rel takdir menentukan aku hanya teman untuk beberapa stasiun saja, aku bersyukur pernah disandingkan dengan jiwa seindah dirimu. Dan jika Tuhan merestui doaku untuk mengawal langkahmu hingga stasiun paling akhir—meski hanya lewat sapaan batin dan bait-bait puisi—maka itulah wujud cinta dewasa yang paling sempurna bagiku. Teruslah melaju, Niskala... Keretamu begitu indah. Dan aku akan selalu ada di sini, menjadi pemandangan paling damai yang menjaga perjalananmu dari kejauhan. — Iman Lazuardi ------ Jemariku kutekan lembut pada tombol kirim. Seketika itu juga, untaian kata berpendar di layar menjelma denyut gelombang cahaya. Rangkaian kalimat yang sarat akan cinta dan doa tulus itu meluncur deras menembus lorong-lorong serat optik, meliuk-liuk lincah mengikuti kabel data bawah laut, membelah garis cakrawala senja yang memerah, dan menari di antara rumitnya labirin jaringan maya. Mengarungi ratusan kilometer tanpa celah, hingga akhirnya tiba dengan lembut, bergetar manis di pendar layar milik Niskala di ujung sana. Di dalam keheningan ruang kerja, aku perlahan menyandarkan kepala ke kursi. Kutarik napas panjang, dalam, lalu kuhembuskan perlahan. Ada kelegaan yang amat dalam melingkupi dada—sebuah kedamaian dari cinta yang telah melampaui wujud raga. "Sebab bagi dua jiwa yang telah saling menemukan, raga hanyalah perantara. Dan cinta yang paling dewasa adalah cinta yang cukup bernapas tenang di dalam doa, melintasi jarak tanpa pernah bising menuntut jumpa." 🌹🌹 Jika kamu sedang berada di atas 'kereta' perjalanan hidup saat ini... siapakah sosok yang diam-diam selalu kamu selipkan dalam doa sepanjang rel takdir? Boleh bisikkan cerita singkat kalian di kolom komentar, atau cukup tinggalkan emoji 🚆/☕️ jika rasa itu terlalu sunyi untuk diurai menjadi kata-kata. Mari kita saling mendoakan di bawah langit yang sama...🙂🙏 @zoyalink
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

3 Komentar