Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Kadang, Bahagia Itu Nggak Perlu Jauh-jauh. Nggak Perlu Di Restoran Mahal, Nggak

Kadang, Bahagia Itu Nggak Perlu Jauh-jauh. Nggak Perlu Di Restoran Mahal, Nggak gambar oleh Kiki Kusuma Ningsih
Perlu di tempat yang viral, nggak perlu nunggu punya banyak uang dulu baru bisa ketawa. Lihat foto ini. Tiga mangkok soto masih ngebul, kuahnya bening tapi gurihnya sampai ke hati. Ada irisan dagingnya, ada toge, ada daun bawang, ada bawang goreng yang bikin wanginya itu lho, dari jauh aja udah kecium. Terus di tengahnya ada tempe mendoan yang masih garing, anget-anget, kalau digigit bunyinya kres-kres. Di sebelahnya ada sate telur puyuh sama sate usus, tinggal dua tusuk terakhir, rebutan siapa yang paling cepat. Sama tiga gelas teh manis yang warnanya pekat, manisnya pas, dingin-dingin gimana gitu kalau diminum habis makan soto panas. Dan yang paling aku suka dari foto ini bukan makanannya. Tapi tempatnya. Alasnya terpal biru. Duduknya lesehan di pinggir jalan. Sebelahnya ada ban motor, ada sandal jepit yang dilepas sembarangan, ada kaki yang selonjoran karena udah capek seharian. Ini bukan foto yang diatur biar estetik. Ini foto yang jujur. Foto kehidupan kita sehari-hari. Siapa yang masih suka makan kayak gini? Makan lesehan, kaki dilipat, sendoknya dipegang sebelah tangan, tangan satunya lagi megangin mangkok biar nggak geser. Kalau kuahnya tumpah dikit ke terpal, ya dilap aja pakai tisu, nggak usah panik. Kalau tempe mendoannya jatuh, diambil lagi, masih bisa dimakan, sayang kalau dibuang. Makan kayak gini itu rasanya beda. Lebih nikmat. Lebih ngena. Lebih ngangenin. Aku tuh sering mikir, kenapa ya makan di pinggir jalan kayak gini kok rasanya lebih enak daripada makan di tempat yang bagus? Padahal menunya sama. Soto ya soto. Teh manis ya teh manis. Tapi kalau makannya bareng orang yang kita sayang, di tempat sederhana, sambil ngobrol ngalor ngidul, sambil ketawa karena cerita yang receh banget, rasanya itu jadi 10 kali lipat lebih enak. Mungkin karena yang kita makan bukan cuma sotonya. Yang kita makan itu kebersamaannya. Yang kita minum bukan cuma teh manisnya. Yang kita minum itu rasa syukurnya. Syukur masih bisa duduk bareng, masih bisa ketawa bareng, masih bisa makan bareng, walaupun lauknya sederhana, walaupun tempatnya cuma terpal biru di pinggir jalan. Coba inget-inget deh. Dulu waktu kita masih kecil, makan kayak gini tuh udah paling mewah. Soto itu bukan makanan sehari-hari. Soto itu makanan kalau lagi ada rezeki lebih, kalau lagi ada yang ulang tahun, kalau lagi ada tamu, atau kalau lagi jalan-jalan ke kota. Sekarang, alhamdulillah, kita masih bisa beli soto 3 mangkok sekaligus. Dulu, satu mangkok aja dibagi berdua sama adik, masih rebutan dagingnya. Sekarang, masing-masing udah punya mangkok sendiri-sendiri. Itu namanya rezeki yang nggak kerasa, tapi pelan-pelan nambah. Dan aku belajar satu hal dari foto ini. Rezeki itu nggak selalu harus besar. Rezeki itu bisa sekecil bisa makan soto anget pas perut lagi lapar-laparnya. Rezeki itu bisa sesederhana masih ada temen makan, masih ada yang nemenin, masih ada yang mau diajak makan lesehan walaupun panas, walaupun debunya nempel di kaki. Banyak orang di luar sana yang makan di restoran mahal, sendirian, hp-nya dipegang terus, nggak ada yang diajak ngobrol. Kita? Makan di terpal biru, tapi ketawanya lepas, obrolannya nyambung, teh manisnya aja rasanya kayak teh paling enak di dunia. Buat kalian yang lagi capek kerja, yang lagi pusing mikirin tagihan, yang lagi ngerasa hidupnya gini-gini aja, coba deh sesekali berhenti sebentar. Ajak anak, ajak suami, ajak istri, ajak emak, ajak temen, makan soto di pinggir jalan kayak gini. Nggak usah gengsi. Nggak usah malu dibilang norak. Justru di situlah bahagianya. Bahagia yang nggak dibuat-buat. Bahagia yang murah tapi mahal rasanya. Kalau kalian perhatiin lagi foto ini, ada satu hal kecil yang bikin aku terharu. Sendoknya itu masih ada di dalam mangkok. Artinya makannya belum selesai, masih dinikmatin pelan-pelan. Nggak buru-buru. Nggak sambil main hp. Tangan yang megang sendok itu tangan anak, lagi serius banget ngaduk sotonya, milih-milih daging yang paling gede. Itu pemandangan yang sederhana, tapi kalau udah jadi orang tua, kita ngerti banget rasanya. Ngeliat anak makan dengan lahap aja udah bikin hati kita tenang. Apalagi kalau dia bilang, "Mah, sotonya enak banget, nambah ya." Itu udah kayak dapet hadiah. Jadi, kalau hari ini kalian belum makan, makanlah. Kalau hari ini kalian udah makan tapi makannya sambil ngelamun, besok makan lagi yang beneran dinikmatin. Jangan cuma asal kenyang. Rasain kuahnya, rasain gurihnya, rasain angetnya di perut. Dan jangan lupa bilang alhamdulillah. Karena masih banyak orang di luar sana yang hari ini belum tentu bisa makan soto anget kayak kita. Terakhir, aku mau tanya sama kalian yang baca caption ini sampai habis. Kalian tim yang mana? Tim yang kalau makan soto kuahnya harus banyak banget sampai nasinya kerendem? Atau tim yang kuahnya dikit aja, yang penting dagingnya banyak? Tim yang tempe mendoannya harus dicocol kecap pedes? Atau tim yang langsung dimakan aja tanpa cocolan? Dan tim yang sate telur puyuhnya dimakan terakhir buat penutup? Atau dimakan duluan karena takut direbut orang? Coba tulis di komentar ya. Aku pengen tau, di rumah kalian, siapa yang paling suka rebutan sate terakhir kayak di foto ini? Tag orangnya, biar dia tau kalau dia udah direbutin satenya. Selamat makan siang semuanya. Yang lagi makan soto hari ini, semoga sotonya enak, tehnya manis, dan hatinya tenang. Yang belum makan, semoga segera ada rezeki buat makan enak hari ini. Amin. Salam sayang dari terpal biru pinggir jalan. #semuaorang #zoyalink
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

7 Komentar