Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Jangan Pernah Tertipu Oleh Tampilan Luar

Jangan Pernah Tertipu Oleh Tampilan Luar gambar oleh Anita Yuliani
Jika kalian melihat foto ini sekilas, apa yang terlintas di pikiran kalian? Mungkin kalian akan berpikir bahwa ini hanyalah sebuah hobi berkebun biasa di halaman belakang rumah. Ya, memang terlihat sangat wajar, bukan? Sederet tanaman kecil yang tumbuh malu-malu di dalam polybag hitam, pot dari potongan botol plastik bekas, dan ditopang oleh ranting-ranting kayu atau bambu yang ditancapkan seadanya. Kalian bahkan bisa melihat sebuah botol air mineral bening yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Semuanya tampak normal, sangat damai, dan mungkin sedikit berantakan layaknya kebun rumahan pada umumnya. Namun, percayalah padaku, di balik kesederhanaan gambar yang baru saja aku potret ini, tersimpan sebuah rahasia yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak selama berminggu-minggu. Hari ini, aku memutuskan untuk mengunggah foto ini sebelum semuanya terlambat, sebelum aku kehilangan akal sehatku sendiri. Semuanya dimulai sekitar empat puluh hari yang lalu. Saat itu, hujan turun sangat lebat dan aku memutuskan untuk berteduh di sebuah pos ronda kosong di pinggiran desa. Tidak ada siapa-siapa di sana selain aku dan seorang pria tua yang mengenakan jas hujan plastik lusuh. Kami tidak saling bicara pada awalnya, sampai tiba-tiba dia meletakkan sebuah bungkusan kertas cokelat kotor di sebelahku. "Tanamlah ini di tempat yang paling tersembunyi di pekaranganmu," bisiknya dengan suara yang serak dan bergetar, pandangannya lurus ke depan menembus hujan. "Gunakan wadah-wadah bekas, jangan pernah gunakan pot baru. Beri mereka penyangga dari ranting rapuh. Dan yang paling penting, jangan pernah memindahkan botol air putih di dekatnya." Sebelum aku sempat membalas atau bertanya apa isi bungkusan itu, pria tua itu melangkah pergi dan menghilang begitu saja di balik kabut hujan. Saat aku membuka bungkusan tersebut, aku menemukan puluhan biji ganjil berwarna kehitaman yang terasa sedingin es saat disentuh. Merasa penasaran dan seolah ditarik oleh daya tarik yang aneh, aku mengikuti instruksinya. Aku mengumpulkan botol-botol plastik bekas dan polybag tua, mengisinya dengan tanah gembur, dan menancapkan ranting-ranting kayu penyangga, persis seperti yang kalian lihat di foto ini. Aku juga meletakkan sebotol air mineral bening di dekatnya sebagai syarat terakhir. Setiap sore, aku duduk berlama-lama di dekat mereka. Pada minggu pertama, tidak ada yang terjadi. Namun, memasuki minggu kedua, tunas-tunas hijau yang terlihat di foto ini mulai bermunculan. Mereka terlihat seperti bibit tanaman biasa, sangat hijau dan segar. Tetapi ada satu hal yang sangat salah dengan cara mereka tumbuh: daun-daun mereka selalu bergerak menghadap ke arahku, ke mana pun aku melangkah di sekitar kebun. Keanehan demi keanehan mulai menyiksa mentalku. Setiap kali aku mendekati kebun kecil ini di tengah malam, aku bersumpah mendengar suara bisikan statis yang sangat halus. Awalnya aku mengira itu hanya suara angin malam yang bergesekan dengan daun dan ranting kayu. Tetapi bisikan itu terlalu berirama, seolah mengulang sebuah lirik lagu atau... sebuah koordinat angka. Dan botol air mineral yang ada di tanah itu? Berkali-kali aku mendapati air di dalamnya berkurang dengan sendirinya tanpa ada kebotoran sedikit pun. Aku mulai terobsesi. Aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap tanaman-tanaman ini tumbuh. Teman-temanku mulai menjauh karena aku selalu menolak keluar rumah. "Hanya merawat kebun biasa," kilahku pada mereka, meski di dalam hati aku tahu tanah basah ini menyimpan sesuatu yang tidak semestinya hidup. Hingga sampailah pada pagi ini, hari keempat puluh. Sesuai dengan mitos lokal, hari keempat puluh adalah masa di mana sebuah ikatan gaib mencapai puncaknya. Aku berjalan ke halaman belakang dengan perasaan campur aduk dan memotret pemandangan ini untuk mendokumentasikannya. Semuanya tampak diam mematung. Namun, tak berselang lama setelah bunyi klik kamera dari ponselku, tanah di dalam deretan polybag itu mulai bergetar pelan. Retakan-retakan kecil muncul di permukaan tanahnya. Tanaman-tanaman hijau yang tampak sehat di foto ini secara serentak layu dan menghitam dalam hitungan detik, mengering layaknya kertas yang terbakar habis tanpa api. Jantungku memburu. Aku melangkah maju, berlutut di atas tanah yang lembap, dan menggunakan tangan kosong untuk menggali salah satu polybag yang paling besar. Aku mengira akan menemukan sistem akar yang aneh, atau mungkin gumpalan jamur parasit. Namun, apa yang perlahan menyembul dari balik gumpalan tanah gelap itu membuat darahku seketika membeku. Bukan akar, bukan pula buah. Di kedalaman tanah basah itu, aku menemukan sebuah kotak logam kecil berlapis karat. Dengan jari yang gemetar hebat, aku membuka penutupnya. Di dalamnya tidak ada emas atau pusaka, melainkan sebuah lembaran foto usang bergaya polaroid. Aku mengangkat foto itu dan menatapnya. Napasku tercekat. Foto usang itu adalah foto halaman belakang rumahku—persis dengan sudut pandang dari foto yang baru saja aku unggah di postingan ini. Terdapat deretan polybag yang sama, ranting kayu yang sama, dan botol air mineral di posisi yang persis sama. Namun, di dalam foto usang bernuansa sephia itu, ada sosok aku yang sedang berlutut membelakangi kamera, menggali tanah. Dan tepat di belakang sosokku di foto itu, berdiri si pria tua dari pos ronda, tersenyum lebar menatap kamera dengan mata yang sepenuhnya putih bersih, tangannya terangkat memegang sebuah pisau berkarat. Tunggu sebentar... jika foto usang ini sudah terkubur berbulan-bulan di bawah tanah, lalu siapa yang memotretnya di masa lalu? Dan yang paling membuat seluruh sarafku mati rasa pagi ini adalah: jika pria tua itu ada tepat di belakangku di dalam foto masa lalu ini... lalu, bayangan hitam siapa yang saat ini perlahan menutupi cahaya matahari di atasku, dan suara napas serak siapa yang kini terdengar tepat di belakang telinga kiriku? Aku tidak berani menoleh. Aku hanya menekan tombol 'Posting' sambil menunduk. Tolong perhatikan baik-baik foto yang kuunggah ini. Coba kalian perbesar gambar di bagian celah bayangan antara ranting dan polybag di sudut kanan atas. Apakah kalian melihat wajah itu? Beri tahu aku segera di komentar jika kalian melihatnya, karena aku... aku tidak bisa bergerak.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar
.