Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Imut Kan, Aulia?
Ada jenis keponakan yang kalau datang ke rumah, rasanya suasana langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Namanya Aulia. Bocah kecil yang baru genap berusia tiga tahun itu punya sejuta cara buat bikin siapa saja di sekitarnya mendadak lumer dan gemas sendiri.
Sore itu, Aulia baru saja selesai mandi. Rambutnya yang masih agak basah disisir asal oleh ibunya, meninggalkan sedikit poni tipis yang menjuntai di dahi. Dia memakai daster mungil bergambar kartun favoritnya yang kebesaran di bagian bahu. Begitu selesai diolesi bedak bayi di pipi dan lehernya, dia langsung berlari kecil menghampiri saya yang sedang bersantai di ruang tengah.
Langkahnya belum terlalu stabil, agak sempoyongan seperti penguin kecil yang sedang terburu-buru. Tangan mungilnya memegang erat sebuah boneka kelinci yang telinganya sudah mulai melar. Tanpa aba-aba, dia mendadak berdiri tepat di depan saya, meletakkan kedua tangan kecilnya di pinggang, lalu memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.
"Tante, lihat deh... imut kan, Aulia?" ucapnya dengan suara cempreng nan polos, lengkap dengan kepakan mata yang dikedip-kedipkan secara sengaja.
Sontak saja tawa saya pecah. Cara dia menirukan gaya centil yang entah dipelajari dari mana itu benar-benar menggemaskan. Pipinya yang tembam jadi makin menonjol saat dia memamerkan senyum pepsodent dengan deretan gigi susunya yang belum lengkap. Rasa lelah setelah seharian beraktivitas rasanya mendadak menguap begitu saja digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dada.
Tingkah polos anak kecil memang selalu punya sihirnya sendiri. Tanpa perlu usaha keras atau kata-kata yang rumit, kepolosan Aulia berhasil menghadirkan kebahagiaan paling sederhana di tengah rumah. Saya cuma bisa tertawa sambil mencubit lembut pipi empuknya, menyadari betapa hadirnya bocah mungil ini selalu sukses menjadi alasan terbaik untuk tersenyum setiap harinya.