Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Hana Terdiam Sejenak, Namun Ia Tidak Melepaskan Genggaman Tangannya.

Hana Terdiam Sejenak, Namun Ia Tidak Melepaskan Genggaman Tangannya. gambar oleh Lentera Jingga
Ia mrasa Takut, Hana Justru Menatap Aris Dengan Tatapan Dalam, Penuh Manipulasi Emosional Yang Halus. "Lalu? Apakah itu mengubah perasaanmu padaku? Pak, aku tidak berniat merebutmu. Aku hanya ingin bersamamu karena aku tahu betapa berat beban yang kamu pikul sendirian. Kamu juga berhak bahagia, bukan hanya berhak untuk berkorban." Kata-kata Hana masuk ke dalam relung hati Aris seperti ra cun yang terasa manis. Aris sedang berada di titik terlemahnya, dan Hana tahu persis cara memainkan peran sebagai penyelamat. "Aku merasa seperti pen ja hat, Han," bisik Aris. "Kamu bukan pen ja hat, Pak. Kamu hanya manusia biasa yang sedang lelah," jawab Hana pelan. "Istrimu sa kit, itu sebuah tragedi. Tapi apakah kamu harus ikut m a ti bersamanya secara perlahan? Kamu butuh udara, Pak. Dan aku adalah udaramu."
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar