Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Gemerlap Lampu Kota Mulai Memudar Di Spion Motor, Digantikan Oleh Sunyi Yang

Merayap Di sepanjang gang sempit menuju rumah. Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan angka yang tak lagi bersahabat bagi mereka yang mendamba istirahat. Aku tiba di kampung ini, membawa serta aroma sisa hari—campuran antara debu jalanan, keringat yang mengering, dan harapan yang belum sempat lunas. Kunci pintu berputar dengan suara besi yang parau. Di dalam kamar ini, dunia terasa lebih jujur. Aku meletakkan tas yang isinya tak lagi seberat tadi pagi, namun pundakku justru merasa lebih terbeban. Hari ini, beberapa barang telah berpindah tangan, menjadi milik orang lain, sementara aku kembali menjadi milik diriku sendiri dalam kesunyian yang paling absolut. Aku duduk di tepian kasur, membiarkan kipas angin tua berderit, mencoba mengusir gerah yang masih tertinggal di pori-pori. Alih-alih langsung terlelap, aku justru menyeduh satu cangkir teh tawar, membiarkan uapnya menari-nari di bawah lampu bohlam yang temaram. Mataku tertuju pada kunci motor yang tergeletak di meja—sebuah kunci yang dulu pernah membawaku membelah aspal Ahmad Yani. (Masa Lalu – Memori Bandung) Seorang kawan datang membawa kabar, atau lebih tepatnya, sebuah rencana yang ia kemas dalam peta digital yang nampak ambisius. Ia mengajakku bertamu ke salah satu puncak di utara Bandung—sebuah tempat di mana kabut lebih sering menyapa daripada manusia. "Kita butuh oksigen yang lebih murni," katanya sambil menyesap kopi saring yang asapnya menari di antara kita. Aku hanya mengangguk, menyetujui sebuah pelarian yang sudah lama tertunda. Kami berkumpul di sebuah rumah di sudut Cicaheum. Di sana, tumpukan carrier dan sepatu gunung tergeletak begitu saja, berdampingan dengan gelas-gelas kopi saring yang uapnya masih mengepul tipis. Cicaheum malam itu terasa lebih hangat karena tawa yang pecah saat kami saling mengecek perlengkapan. "Sudah siap meninggalkan kebisingan ini sebentar?" tanya tuan rumah sembari mengikat tali tasnya.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar