Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

EPISODE 2 — ISTRI PALSU DI RUMAH SANG PEWARIS

EPISODE 2 — ISTRI PALSU DI RUMAH SANG PEWARIS gambar oleh Saksikansaja
Pntu lift tertutup perlahan. Alena masih berdiri di tempatnya. Matanya terpaku pada Rafael yang kini berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan. Pria itu seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa. Padahal hidup Alena baru saja berubah dalam hitungan detik. “Mulai malam ini, kamu adalah istriku.” Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Alena menatap kontrak yang baru saja ditandatanganinya. Tangannya masih gemetar. “Ini gila,” gumamnya. Rafael yang mendengar suara itu menoleh. “Apa?” Alena mengangkat wajah. “Saya baru saja menikah dengan orang yang bahkan tidak saya kenal.” Rafael memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Kamu mengenalku cukup untuk tahu bahwa aku bisa membayar utangmu.” “Itu bukan maksud saya.” “Lalu?” Alena berdiri. “Saya tidak mengerti kenapa Anda memilih saya.” Rafael diam. Tatapannya berubah sesaat. Hanya sesaat. Namun Alena sempat melihat sesuatu di mata pria itu. Keraguan. Atau mungkin... rasa bersalah. “Aku sudah menjelaskan alasannya.” “Karena saya tidak akan jatuh cinta kepada Anda?” “Ya.” “Dan bagaimana Anda tahu?” Rafael menatapnya tajam. “Karena aku tidak akan memberimu kesempatan.” Alena terdiam. Jawaban itu terdengar begitu dingin hingga membuat dadanya terasa sesak. Rafael mengambil jasnya yang tergantung di kursi. “Kita pergi.” “Ke mana?” “Rumah.” Alena mengerutkan kening. “Rumah siapa?” “Rumah kita.” --- Mobil hitam itu melaju membelah jalan yang basah. Alena duduk di kursi belakang bersama Rafael. Sejak meninggalkan gedung Ardhana Group, tidak ada percakapan di antara mereka. Alena menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota berlari mundur di balik kaca. Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Apakah dia benar-benar melakukan hal yang tepat? Bagaimana kalau semua ini jebakan? Bagaimana kalau Rafael berubah pikiran? Bagaimana kalau keluarganya tahu? Dan yang paling membuatnya takut... bagaimana jika dirinya benar-benar mulai menyukai pria itu? “Berhenti berpikir terlalu jauh.” Suara Rafael tiba-tiba memecahkan keheningan. Alena menoleh. “Apa?” “Kamu terlihat seperti orang yang sedang memikirkan seribu kemungkinan.” Alena mendengus. “Wajar. Saya baru saja menikah kontrak dengan orang asing.” “Setidaknya sekarang kamu punya lima ratus juta.” Alena menatapnya kesal. “Uang bukan berarti semua masalah selesai.” “Aku tahu.” “Kalau tahu, jangan bicara seperti itu.” Rafael menatapnya beberapa detik. Kemudian kembali melihat ke depan. “Aku hanya tidak terbiasa menenangkan orang.” Alena terdiam. Untuk pertama kalinya, dia menyadari sesuatu. Rafael mungkin bukan orang yang pandai menunjukkan perhatian. Mobil kembali sunyi. Beberapa menit kemudian, Rafael berkata, “Besok pagi kita akan ke rumah sakit.” Alena langsung menoleh. “Untuk ibu saya?” “Ya.” “Saya bisa mengurusnya sendiri.” “Aku tidak bertanya.” Alena mengerutkan dahi. “Kenapa Anda harus ikut campur?” “Karena sekarang masalahmu juga menjadi masalahku.” Alena terdiam. Kalimat itu sederhana. Tetapi entah mengapa terdengar berbeda. --- Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar. Alena menatap bangunan tersebut dengan mulut sedikit terbuka. Rumah itu lebih pantas disebut mansion. Halaman luas. Pagar tinggi. Taman yang tertata sempurna. Lampu-lampu kecil menghiasi jalan menuju pintu utama. “Ini rumahmu?” “Sekarang rumahmu juga.” Alena menoleh. “Saya harus tinggal di sini?” “Itu salah satu syarat kontrak.” Rafael turun lebih dahulu. Alena mengikutinya. Begitu mereka masuk, seorang wanita paruh baya segera datang menghampiri. “Selamat datang, Tuan Rafael.” Wanita itu kemudian melihat Alena. Wajahnya berubah terkejut. “Dan... Nona ini?” Rafael menjawab tanpa ragu. “Istriku.” Mata wanita itu membesar. “Istri?” Rafael mengangguk. “Namanya Alena.” Wanita itu segera tersenyum. “Selamat datang, Nyonya.” Alena hampir tersedak. “Nyonya?” “Jangan panggil saya begitu.” Wanita itu tertawa kecil. “Maaf, Nyonya. Saya Bu Mira, kepala pelayan di rumah ini.” Alena tersenyum canggung. “Senang bertemu dengan Anda, Bu Mira.” Bu Mira kemudian melihat Rafael. “Tuan tidak memberi tahu kami kalau akan membawa pulang istri.” “Aku juga tidak tahu sampai tadi malam.” Alena menoleh tajam. “Apa?” Rafael berjalan meninggalkan mereka. Bu Mira hanya tersenyum penuh arti. “Sepertinya Tuan Rafael akhirnya menemukan seseorang yang bisa membuatnya bicara lebih banyak.” “Benarkah?” “Tidak.” Bu Mira tertawa. “Dia masih menyebalkan.” Alena tanpa sadar ikut tertawa. Namun ketika dia melihat Rafael yang sudah berada di tangga, senyumnya perlahan hilang. Pria itu sedang menatapnya. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak. Rafael kemudian berkata, “Kamar di sebelah kiri.” Alena mengangguk. “Baik.” Dia mengikuti Rafael. --- Kamar yang diberikan kepadanya jauh lebih besar daripada rumah yang selama ini ditempatinya. Ada tempat tidur besar, lemari pakaian, meja kerja, balkon, bahkan kamar mandi pribadi. Alena berdiri di tengah ruangan. “Ini kamar saya?” “Ya.” Rafael berdiri di pintu. Alena menunjuk tempat tidur. “Dan Anda?” “Kamar sebelah.” Alena menghela napas lega. “Syukurlah.” Rafael mengangkat alis. “Kamu kecewa?” “Tidak!” Jawabannya terlalu cepat. Rafael hampir tersenyum. Hampir. “Tidurlah.” Dia hendak pergi. Namun Alena memanggilnya. “Rafael.” Pria itu berhenti. Rafael pergi. Alena berdiri diam. Kata-kata itu justru membuatnya semakin takut. --- Pagi datang. Alena terbangun karena suara ketukan. Tok. Tok. Tok. Dia membuka pintu. Bu Mira berdiri di sana. “Selamat pagi, Nyonya.” “Pagi, Bu Mira.” “Tuan Rafael meminta Nyonya bersiap. Kita akan ke rumah sakit.” Alena langsung teringat ibunya. “Oh, iya.” Dia segera bersiap. Sekitar satu jam kemudian, Alena turun. Rafael sudah menunggu di ruang makan. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Sederhana. Tetapi tetap terlihat mahal. Alena duduk di seberangnya. “Ayo.” Rafael menatap jam tangannya. “Kita berangkat.” --- Rumah sakit. Begitu sampai, Alena langsung berlari menuju kamar ibunya. “Ibu!” Wanita tua di atas ranjang tersenyum lemah. “Alena...” Alena menggenggam tangan ibunya. “Ibu bagaimana?” “Lebih baik.” Alena menghela napas lega. Kemudian dia melihat Rafael berdiri di belakang. Ibunya menatap pria itu. “Siapa?” Alena membeku. Dia belum sempat memberi tahu. Rafael justru maju. “Saya Rafael.” Ibunya menatapnya bingung. “Rafael?” Rafael mengangguk. “Saya suami Alena.” Mata ibunya membesar. Alena menutup wajah. “Ibu...” “Suami?” Ibunya terlihat kaget sekaligus bahagia. “Kapan kalian menikah?” Alena gugup. “Baru...” Rafael menyela. “Semalam.” Ibunya tersenyum. “Kenapa tidak memberitahu Ibu?” Alena hanya tersenyum kaku. Rafael kemudian duduk di samping ranjang. “Saya akan memastikan pengobatan Ibu berjalan dengan baik.” Ibunya menatapnya. “Kamu pria yang baik.” Rafael terdiam. Alena melihat wajahnya. Untuk pertama kalinya, ekspresi dingin pria itu terlihat melunak. “Terima kasih, Bu.” --- Setelah keluar dari kamar, Alena langsung menarik Rafael ke lorong. “Kenapa Anda bilang kita menikah semalam?” “Karena memang begitu.” “Secara hukum kita belum—” Rafael menatapnya. “Semua dokumen sudah diurus.” Alena membeku. “Apa?” “Pernikahan kita sudah tercatat.” “Secepat itu?” “Aku tidak suka menunda.” Alena menatapnya tak percaya. “Jadi saya benar-benar istri Anda?” Rafael mendekat. “Di atas kertas, iya.” “Dan di depan keluarga?” “Juga.” Alena menghela napas. “Baik.” Rafael hendak berjalan pergi. Namun Alena memanggilnya. “Terima kasih.” Rafael berhenti. “Untuk apa?” “Untuk membantu ibu saya.” Rafael menoleh. Tatapan mereka bertemu. “Jangan salah paham.”
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.