Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

"Eng ... Itu Lho, Dam, Istrimu Hampir Saja Digerebek Warga!"

"Eng ... Itu Lho, Dam, Istrimu Hampir Saja Digerebek Warga!" gambar oleh Deni Kurniawan
"Lho, kenapa mau digerebek Pakde?" Mata Mas Damar membelalak. Di sini aku sudah ketar-ketir, takut pakde tiba-tiba buka rahasia. "Karena mereka mau kabur setelah terjadi insiden nabrak pagar rumah orang." Mas Damar garuk-garuk kepala. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Aku pun semakin deg-degan tidak karuan. Jangan sampai gara-gara ucapan pakde Mas Damar jadi curiga. "Nabrak apa Pakde?" tanya Mas Damar. "Nabrak gerbang ruko, Dam." Lah, gimana sih ini katanya tadi nabrak pagar rumah. Sekarang jadi gerbang ruko. Tiba-tiba Bagas memanggil Mas Damar, katanya bapak mencari. Akhirnya aku bisa bernapas lega. Semoga saja Mas Damar nggak curiga dengan penjelasan pakde. Setelah kepergian Mas Damar, aku langsung menarik tangan pakde keluar rumah. "Ini gimana sih Pakde, kalau Mas Damar curiga gimana?" Aku berbicara seraya celingukan, takut kalau tiba-tiba ada ibu mendengar pembicaraan kami. "Udah ditolongi malah menyalahkan kamu itu, Wi, Wi." Pakde tampak tak suka dengan ucapanku. Aku menghela napas. "Bukan aku menyalahkan Pakde, cuma ya ucapan Pakde itu tadi bisa bikin Mas Damar curiga." Aku jadi kesel sendiri. Udah tua, dikasih tahu malah sok tahu. Awas aja kalau sampai Mas Damar curiga dan mencari tahu kejadian semalam. "Curiga gimana? Orang aku bilang terjadi insiden mau nabrak gerbang ruko." "Ya ampun Pakde, emang ada orang nabrak ruko sampai ke kantor polisi?" Aku menepuk jidat. Astaga, apa tidak bisa gitu berpikir lain selain nabrak ruko atau pagar rumah. Terdengar mustahil kalau cuma nabrak itu bisa masuk kantor polisi. "Ah mboh lah, Wi. Aku sudah berusaha melindungimu tadi. Kalau kamu tidak setuju ya udah. Nanti jelaskan saja sendiri sama suamimu. Semoga dia nggak akan curiga," jawabnya lalu kembali masuk. "Pakde," panggilku tetapi dia acuh. Sial banget sih, udah b a y a r setengah jeti. Yang diajak kerjasama malah o t a knya dodol. Sama aja aku gali lubang sendiri kalau gini mah. "Nduk, reneo," panggil ibu mertua. Gegas aku masuk ke dapur. Yang tadinya berniat mau bantu bikin minum malah nggak jadi. Alhasil ibu mertua yang bikin. Saat aku masuk, sudah ada beberapa gelas berisi teh di atas nampan dan aku tinggal membawanya ke ruang tamu. Selesai meletakkan minuman di atas meja. Aku segera kembali ke dapur, tetapi Mas Damar memanggil. Ah, apa dia akan menelisik soal apa yang dikatakan oleh Pakde tadi? "Iya, Mas, ada apa?" tanyaku menundukkan kepala, tak berani menatap kedua manik matanya. "Aku mau bawa bapak periksa ke rumah sakit. Sekarang aku mau ambil antrian dulu sama Adi. Nanti kamu menyusul sama Bagas dan ibu ya." "Ha?" Aku terkejut. Langsung panik. "Kok ha? Aku mau pergi ke rumah sakit sama Adi. Nanti kamu menyusul sama bapak, Bagas, ibu dan Pakde. Biar nanti kalian nggak lama ngantri," ujarnya dan aku mengangguk paham. "I-iya, Mas," jawabku yang sebenarnya dalam ketakutan. Gimana kalau nanti Mas Damar tanya-tanya sama Adi. Duh bisa gawat nih! "Nggak sama aku aja, Mas?" tanya Bagas mendekat, pasti dia merasakan hal yang sama denganku. Takut. "Kamu di rumah saja, takut bapak butuh apa-apa," sahut Mas Damar. Aku dan Bagas saling senggol setelah Mas Damar berbalik badan menuju ruang tamu. "Gimana?" bisik Bagas. "Aku nggak tahu," jawabku yang juga bingung mau berbuat apa. "Kamu aja yang ikut, biar Adi berangkat sama aku nanti," usul Bagas lalu memanggil Mas Damar. "Mas, biar Mbak Dewi aja yang ikut ke rumah sakit bareng kamu. Nanti Adi sama aku aja." Dalam hati aku harap-harap cemas. Semoga saja Mas Damar nggak curiga dengan alasan aku yang ikut ke rumah sakit bareng dia. "Ya udah nggak apa-apa, ini Adi juga nggak bisa. Katanya dia harus pulang sekarang," jawab Mas Damar dan akhirnya aku bisa bernapas lega. Tepat pukul 05.30 WIB, aku dan Mas Damar berangkat ke rumah sakit. Kata Pakde berangkat pagi biar dapat antrian lebih pagi dan Mas Damar setuju dengan usul Pakde. Sesampainya di rumah sakit, Mas Damar langsung mengambil antrian lalu mengajak pulang. Ternyata setelah mengambil antrian pada pulang dulu. Kami pun melakukan hal yang sama, pulang terlebih dahulu dan datang setelah buka. "Wi, aku tadi denger orang kan pas ambil antrian." "Hm." Aku menyimak apa yang akan diucapkan Mas Damar. "Semalam ada pasangan selingkuh yang kena operasi di hotel Taman Agung," tuturnya sambil tersenyum mengejek. "Harusnya itu kalau mau enak-enak dengan selingkuhan jangan di tempat yang dekat, jauh aja sekalian. Atau kalau nggak di hutan pinus itu aman." Mas Damar tergelak dan aku hanya diam sembari menelan ludah yang terasa berat masuk ke kerongkongan. "Selingkuh kok nggak cerdas," celetuknya lagi. Sial, aku dikatakan b o d o h. Bagas sih, kenapa nggak cari yang jauh dari kantor polisi. Kalau udah kadung ketangkep gitu kan malu. Mana beritanya tersebar lagi. "Kenapa hanya diam aja, Wi? Kamu mendukung tukang selingkuh itu?" Loh, kenapa malah bicara begitu. "Ya nggak lah, Mas. Masak perbuatan buruk didukung sih," jawabku segera biar Mas Damar nggak curiga. "Bener tuh, harusnya kemarin itu pak polisi masukin aja dipenjara biar kapok!" Kembali aku menelan saliva dengan kasar. Itu ucapannya Mas Damar kenapa buruk banget sih. "Kalau aku sih daripada selingkuh mending bicara baik-baik. Sebab, setiap pasangan itu pasti akan ada saatnya merasa tidak cocok. Jadi, saling bicara akan menjadikan hubungan kembali harmonis. Setuju nggak?" "Ha?" "Kamu kenapa sih, diajak bicara kok kayak malah bengong sendiri? Ada masalah?" Belum sempat aku menjawab, Mas Damar udah bicara lagi. "Ah iya aku lupa kalau semalam habis kena musibah. Itu gimana bisa nabrak gerbang ruko atau pagar rumah tadi kata Pakde? Soalnya nggak jelas ucapannya tadi." Aku bingung mau jawab apa. Nabrak gerbang ruko atau nabrak rumah. "Eng ... nabrak ruko terus kebablasan nabrak pagar rumah. Kebetulan yang punya ruko rumahnya bersebelahan, Mas." Ah, untung saja aku sedikit pandai. Jadi bisa berpikir dengan cepat. "Ya ampun, kasihan sekali kamu Wi, terus kok bisa masuk kantor polisi?" tanyanya lagi. "Bagas dikira mabuk, Mas, padahal kan dia cuma mengantuk," jawabku. Wajah Mas Damar langsung berubah. "Mengantuk?" "Iya, kami kena macet dan ban bocor, Mas. Sampai di sini tuh malam dan posisi Bagas sudah lelah dan mengantuk," jelasku semakin mengada-ada tak tahu arah. Semoga saja Mas Damar nggak tanya ke Bagas, bisa kacau kalau penjelasan kami berdua berbeda. "Oalah begitu," jawab Mas Damar lalu mengusap kepalaku. Saat tiba di rumah, matahari sudah bersinar terang. Aku turun terlebih dahulu, baru diikuti oleh Mas Damar. Tiba-tiba saja dia berdiri di depan mobil lalu bertanya. "Nggak ada lecet sama sekali mobilnya, Wi. Apa sudah langsung diperbaiki?" Seketika aku menjadi gagu. Judul : Sentuhan Sang Ipar #ceritadewasa @zoyalink-articel
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar