Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

ECLIPSE OF TWO SOULS

BAB 2 — THE MARK THAT SHOULD NOT EXIST Suara ledakan mengguncang hutan. Elara tersentak mundur ketika cahaya biru dari tangan Kael menabrak bayangan hitam yang muncul di antara pepohonan. Benturan energi itu menciptakan gelombang angin yang membuat dedaunan beterbangan. “Kael!” Pemuda itu tidak menoleh. “Jangan mendekat!” Nada suaranya tegas. Namun Elara tidak bisa hanya berdiri diam. Sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa Kael berada dalam bahaya. Bayangan itu kembali menyerang. Kael mengangkat lengannya. Cahaya biru membentuk perisai tepat di depannya. BRAK! Benturan keras membuat tubuh Kael terdorong beberapa meter. “Elara, lari!” Elara membeku. “Tidak!” Kael menoleh tajam. “Kenapa kamu masih di sini?!” “Aku tidak tahu siapa kamu, tapi aku juga tidak akan meninggalkanmu begitu saja!” Untuk sesaat, Kael terdiam. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu dalam ekspresi Kael yang berubah ketika mendengar perkataan itu. Seolah kalimat sederhana tersebut pernah ia dengar sebelumnya. Di tempat lain. Pada waktu yang berbeda. Namun sebelum Kael sempat mengatakan apa pun, bayangan hitam kembali menerjang. Kael berbalik dan mengangkat pedangnya. Sebuah pedang panjang berwarna hitam muncul dari cahaya biru yang melingkari tangannya. Ia menebas. SHING! Bayangan itu terbelah. Namun bukannya menghilang, kedua bagian kegelapan tersebut berubah menjadi kabut dan kembali menyatu. Kael mengerutkan kening. “Tidak mungkin...” Elara melihat ekspresinya. “Apa itu?” “Bukan makhluk biasa.” “Lalu apa?” Kael menggenggam pedangnya lebih erat. “Penjaga.” “Penjaga apa?” Kael menatapnya. “Penjaga yang dikirim untuk menemukanmu.” Jantung Elara terasa jatuh. “Menemukanku?” Kael mengangguk pelan. “Dan mereka tidak akan berhenti.” Tiba-tiba rasa panas menjalar dari telapak tangan Elara. Ia memegang tangannya sendiri. “Ah!” Cahaya biru keperakan muncul lagi. Soul Mark di telapak tangannya bersinar semakin terang. Kael langsung menatap simbol tersebut. “Jangan!” Namun terlambat. Cahaya dari tangan Elara menyebar ke seluruh tubuhnya. Rambutnya bergerak tertiup angin yang tidak berasal dari mana pun. Kemudian— sebuah suara perempuan terdengar di dalam pikirannya. “Bangun...” Elara terdiam. “Siapa kamu?” Kael menatapnya bingung. “Elara?” Suara itu kembali terdengar. “Jangan percaya kepada siapa pun...” Elara memejamkan mata. Seketika sebuah bayangan muncul dalam pikirannya. Sebuah kota kuno. Menara-menara tinggi berdiri di bawah langit merah. Orang-orang berlari. Api memenuhi jalan. Dan di tengah kehancuran itu, seorang gadis berdiri di depan sebuah gerbang raksasa. Wajahnya tidak terlihat. Namun rambutnya sama. Hitam kebiruan. Tangannya memiliki tanda bulan sabit. Elara menahan napas. Kemudian ia melihat seseorang berdiri di belakang gadis itu. Seorang anak laki-laki. Rambut hitam. Mata biru. Kael. Namun wajah anak itu terlihat jauh lebih muda. “Elara!” Suara Kael menariknya kembali. Elara membuka mata. Ia tersengal. Kael sudah berdiri tepat di depannya. “Apa yang kamu lihat?” Elara menatapnya. “Aku... melihatmu.” Wajah Kael berubah pucat. “Di mana?” “Aku tidak tahu.” “Ceritakan.” “Ada sebuah kota. Kota itu terbakar. Ada seorang gadis yang mirip denganku... dan seorang anak laki-laki yang mirip denganmu.” Kael terdiam. “Berapa umur anak itu?” Elara menggeleng. “Aku tidak tahu.” “Apakah dia mengatakan sesuatu?” Elara mencoba mengingat. Kemudian sebuah kalimat muncul begitu jelas di kepalanya. “Dia bilang... ‘Aku akan menemukanmu lagi.’” Kael menundukkan kepala. Tangannya mengepal. Elara memperhatikan reaksinya. “Kamu tahu sesuatu.” Kael tidak menjawab. “Kamu tahu, kan?” “Tidak.” “Kamu berbohong.” Kael menatapnya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Akhirnya Kael menghela napas. “Ada banyak hal tentangmu yang belum kamu ingat.” “Kenapa aku tidak mengingatnya?” “Karena seseorang membuatmu lupa.” Elara terdiam. “Siapa?” Kael menatap Soul Mark di tangannya. “Seseorang yang takut kamu mengingat siapa dirimu sebenarnya.” Sebelum Elara dapat bertanya lebih jauh, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Kael langsung menoleh. Lebih banyak bayangan mulai muncul di antara pepohonan. Satu. Dua. Lima. Kemudian puluhan. Mata mereka berwarna merah menyala. Elara mundur. “Berapa banyak mereka?” Kael menarik napas panjang. “Terlalu banyak.” “Lalu apa yang harus kita lakukan?” Kael mengangkat pedangnya. “Kita pergi.” “Ke mana?” Kael menatap ke arah utara. “Ke tempat terakhir yang seharusnya kamu datangi.” Elara mengerutkan kening. “Tempat apa?” Kael menjawab dengan suara rendah. “Temple of the First Eclipse.” Nama itu membuat Soul Mark Elara kembali bersinar. Kali ini jauh lebih terang. Dan dari dalam hutan terdengar suara bisikan yang tidak berasal dari Kael. “Moon Heir...” Elara membeku. Kael juga mendengarnya. Untuk pertama kalinya, ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan ketakutan. “Elara.” “Apa?” Kael menatapnya serius. “Mulai sekarang, jangan pernah menyebut tanda di tanganmu sebagai sekadar tanda.” “Lalu apa?” Kael mendekat. “Itu bukan tanda.” Ia menatap mata Elara. “Itu adalah kunci.” “Kunci untuk apa?” Kael tidak langsung menjawab. Langit di atas mereka mulai berubah. Bulan hitam perlahan muncul di balik awan. Kemudian cahaya keperakan menyinari Soul Mark Elara. Kael berbisik, “Untuk membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkunci.” Elara menatap langit. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia belum tahu apa yang menunggunya di Temple of the First Eclipse. Ia juga belum tahu mengapa Kael seolah-olah telah mengenalnya jauh sebelum malam ini. Tetapi satu hal mulai ia pahami. Pertemuannya dengan Kael bukan sebuah kebetulan. Dan mungkin... seluruh hidupnya selama delapan belas tahun adalah sebuah kebohongan. Bersambung ke bab 3.... Jangan lupa like komen n follow ya biar ga ketinggalan kelanjutan nya..
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

6 Komentar