Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Denting Nada Di Balik Jendela Kelas

Denting Nada Di Balik Jendela Kelas gambar oleh Ahmad Butros Zulfikar
​Angin sore berhembus pelan, membawa aroma khas halaman sekolah yang basah usai diguyur hujan. Di sudut ruang kelas yang mulai sepi, Keisha—seorang gadis kelas sebelas yang dikenal pemalu—duduk termenung di depan meja belajarnya. Di atas meja terserak buku catatan fisika, namun pikirannya justru melayang pada sebuah melodi rahasia. ​Sejak kecil, Keisha menyimpan impian besar: menciptakan lagu sendiri. Namun, rasa kurang percaya diri selalu menahannya. Bagi teman-temannya, ia hanyalah siswi pendiam yang jarang mengangkat tangan saat jam pelajaran. ​Titik Balik di Jam Istirahat ​Semuanya berubah pada suatu hari Selasa. Saat jam istirahat, Keisha tidak sengaja meninggalkan buku lirik bersampul biru muda di bangku perpustakaan. Buku itu berisi curahan hati, bait-bait puisi tentang mimpi, dan coretan not balok yang belum rampung. ​Ketika ia kembali dengan panik setengah jam kemudian, buku itu sudah tidak ada di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana jika seseorang membacanya dan menertawakannya? ​Keesokan paginya, sebuah catatan kecil terselip rapi di dalam laci mejanya: ​"Lirikmu indah, Keisha. Nada-nada di dalamnya punya nyawa. Jangan biarkan buku ini bersembunyi di dalam tas. — R." ​Keberanian yang Mulai Tumbuh ​Sosok "R" itu akhirnya terungkap. Ia adalah Rehan, teman sekelasnya yang juga anggota klub musik sekolah. Rehan tidak sengaja menemukan buku tersebut dan justru terkagum-kagum dengan bakat terpendam Keisha. ​Didorong oleh dukungan Rehan dan keyakinan dari dalam dirinya sendiri, Keisha mulai memberanikan diri. Perlahan, ia keluar dari zona nyaman: ​Mulai aktif menyumbangkan ide dalam kerja kelompok. ​Berani memetik senar gitar akustik di hadapan teman-teman klub musik. ​Menulis lagu tema untuk acara pementasan seni akhir tahun sekolah. ​Puncak Pementasan ​Hari pementasan seni tiba. Aula sekolah dipadati oleh ratusan siswa dan guru. Nama Keisha dipanggil ke atas panggung untuk membawakan lagu ciptaannya sendiri yang berjudul Langkah Pertama. ​Saat lampu sorot menyorotnya, tangannya sempat gemetar memegang mikrofon. Namun, saat ia melihat senyuman Rehan di barisan penonton dan mengingat betapa jauh ia telah melangkah, keraguan itu menguap. Ia mulai bernyanyi, suaranya yang lembut menggema dengan indah, menceritakan kisah seorang gadis SMA yang akhirnya berani merangkul mimpinya. ​Bagi Keisha, masa SMA bukan lagi sekadar tumpukan PR dan ujian harian, melainkan babak di mana ia menemukan suara sejatinya. ​Bagaimana menurut kalian, pakah kisah Keisha ini sudah cukup menginspirasi ?
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar
.