Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
DENDAM YANG BERUJUNG TRAGIS: KETIKA RASA SAKIT HATI DI TEMPAT KERJA
🥺 DENDAM YANG BERUJUNG TRAGIS: KETIKA RASA SAKIT HATI DI TEMPAT KERJA MENGHANCURKAN DUA NYAWA Sebuah tragedi memilukan mengguncang lingkungan kepolisian. Dua sahabat sekaligus rekan kerja, yang seharusnya saling menjaga, justru berakhir dengan nyawa salah satunya melayang di tangan rekannya sendiri. Dendam yang Terpendam Berbulan-bulan Bharada Andika Rahmadani diduga menyimpan luka mendalam. Ia mengaku kerap disalahkan dan menjadi sasaran perundungan oleh seniornya, Bharada Valdo Fernandez Lewai. Rasa takut dan tertekan itu tumbuh perlahan menjadi keputusasaan yang tak lagi tertahankan. Bahkan sejak tanggal 12 Oktober, ia diam-diam sudah menyiapkan senjata tajam, seolah hidup dalam ketakutan yang tiada akhir. Dini Hari yang Mengubah Segalanya Jumat dini hari, 16 Oktober 2026, sekitar pukul 04.40 WIB di ruang pemadam kebakaran Ditpoludara, Pondok Cabe, mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Andika membawa senjata tajam dari rumahnya, lalu mengambil senjata api di lokasi penjagaan. Dengan tangan gemetar namun tekad yang sudah gelap, ia masuk ke ruangan tempat Valdo sedang beristirahat — dan melepaskan empat tembakan ke tubuh rekannya. Saat Valdo jatuh tersungkur, Andika masih melampiaskan kemarahannya yang tak masuk akal. Ia menembak lagi ke arah kepala dan melukai leher seniornya dengan pisau yang dibawanya sendiri. Hening pun menyelimuti ruangan itu. Penyerahan Diri yang Penuh Penyesalan Setelah semuanya berakhir, Andika sadar apa yang telah ia lakukan. Ia berjalan keluar ruangan, menyerahkan diri ke Unit Provos Ditpoludara, dan membiarkan dirinya diamankan. Tidak ada lari, tidak ada penyangkalan — hanya keheningan yang penuh penyesalan mendalam. Perjalanan Terakhir Pulang ke Kampung Halaman Jenazah Bharada Valdo kini telah dibawa terbang melintasi jarak jauh, menembus awan, menuju Kupang, lalu ke kampung halamannya di Larantuka, Flores Timur, NTT. Ia pulang untuk terakhir kalinya — bukan dengan seragam yang rapi, melainkan sebagai almarhum yang diselimuti duka keluarganya yang menunggu di rumah. Sebuah Pelajaran yang Mahal Dua nyawa hancur dalam sekejap. Satu meninggal selamanya, satu lagi harus menjalani sisa hidupnya di balik jeruji besi. Semua bermula dari kata-kata dan perlakuan yang menyakiti hati, yang dibiarkan tumbuh tanpa ada yang menyelesaikannya. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua: kebaikan dan rasa hormat kepada sesama, terlebih kepada rekan di tempat kerja, jauh lebih berharga daripada sekadar ego atau kekuasaan sesaat. Selamat jalan, Bharada Valdo. Semoga tanah kelahiranmu di Larantuka menampungmu dengan damai. 🙏 #NTT #BharadaValdoFernandez #BharadaAndikaRahmadani #AntiPerundungan #StopBullying