Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
CINTA TERLARANG DI BAWAH GEMERLAP AMPERA
Namanya Arga Pratama, seorang siswa kelas tiga SMA yang dikenal sederhana dan tidak banyak bicara. Setiap hari ia berangkat sekolah dengan sepeda motor tuanya. Meski hidupnya tidak bergelimang harta, Arga memiliki hati yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan ibunya.
Sementara itu, Citra Anindya adalah gadis cantik yang selalu menjadi pusat perhatian di sekolah. Wajahnya manis, tutur katanya lembut, dan senyumnya mampu membuat siapa saja merasa nyaman. Namun, di balik kehidupannya yang terlihat sempurna, Citra sering merasa kesepian karena orang tuanya terlalu sibuk mengatur masa depannya.
Pertemuan mereka bermula pada suatu pagi yang mendung.
Saat Citra berjalan menuju kelas, beberapa buku yang dibawanya terjatuh. Arga yang kebetulan lewat segera membantunya memungut buku-buku tersebut.
“Terima kasih, ya. Aku ceroboh sekali pagi ini,” ujar Citra sambil tersenyum.
Arga menyerahkan buku terakhir kepadanya.
“Sama-sama. Lain kali hati-hati, jangan sampai semua bukumu ikut terbang ditiup angin.”
Citra tertawa kecil. “Kamu lucu juga, ya. Padahal di kelas kelihatannya pendiam.”
Arga hanya tersenyum tipis, lalu berlalu meninggalkannya.
Entah mengapa, pertemuan sederhana itu terus teringat dalam pikiran Citra sepanjang hari.
Sejak saat itu, Citra mulai memperhatikan Arga. Ia memperhatikan bagaimana Arga selalu membantu teman-temannya, bagaimana pemuda itu menghormati guru, dan bagaimana ia tidak pernah malu dengan keadaan keluarganya.
Perlahan, rasa kagum tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Begitu pula dengan Arga. Ia mulai menyadari bahwa Citra bukan sekadar gadis cantik yang dikagumi banyak orang. Citra memiliki kelembutan hati yang membuat Arga merasa dihargai, sesuatu yang jarang ia rasakan ketika berada di tengah lingkungan yang penuh persaingan.
Hari demi hari, mereka semakin dekat.
Mereka sering bertemu di perpustakaan, berbagi bekal di kantin, dan belajar bersama menjelang ujian. Terkadang, setelah kegiatan sekolah selesai, mereka berjalan bersama menuju kawasan Sungai Musi sambil bercerita tentang cita-cita dan kehidupan.
Hingga suatu sore, Citra mengajak Arga duduk di sebuah tempat yang menghadap Jembatan Ampera.
Langit Palembang berubah menjadi jingga. Permukaan Sungai Musi memantulkan cahaya matahari yang perlahan tenggelam.
“Ga, boleh aku tanya sesuatu?” ujar Citra.
“Tanya apa?”
“Menurut kamu, apakah dua orang yang berbeda kehidupan bisa saling mencintai?”
Arga terdiam sejenak.
“Menurutku, cinta bukan soal siapa yang paling kaya atau siapa yang paling terkenal. Yang penting, dua orang itu saling menghargai dan mau berjuang bersama.”
Citra menatap Arga dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau suatu hari seseorang yang kamu cintai tidak direstui oleh keluargamu, apa yang akan kamu lakukan?”
Arga memandangnya dengan serius.
“Aku akan berusaha menjelaskan perasaanku. Tapi aku juga tidak ingin menyakiti keluargaku. Aku percaya, kalau niat kita baik, pasti ada jalan untuk menyelesaikan semuanya.”
Citra tersenyum, meskipun hatinya terasa berat.
Ia tahu, pertanyaan itu bukan sekadar percakapan biasa. Ada sesuatu yang selama ini disembunyikannya.
Citra berasal dari keluarga berada. Ayahnya menginginkan seorang menantu yang memiliki kedudukan dan kekayaan yang sepadan. Sementara Arga hanyalah pemuda sederhana yang harus berjuang keras untuk melanjutkan pendidikannya.
Citra takut, ketika orang tuanya mengetahui kedekatan mereka, semuanya akan berubah.
Ketakutan itu semakin nyata ketika Dion Mahendra mulai mendekatinya.
Dion adalah siswa populer yang berasal dari keluarga kaya. Ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ketika mengetahui Citra dekat dengan Arga, Dion merasa tersaingi.
Suatu hari, Dion menghampiri Arga di halaman sekolah.
“Gue cuma mau bilang, jangan terlalu berharap sama Citra,” ucap Dion dengan nada meremehkan.
Arga menatapnya dengan tenang.
“Kenapa? Memangnya Citra milik siapa?”
Dion tersenyum sinis.
“Kamu tahu sendiri perbedaan kita. Jangan sampai kamu bermimpi terlalu tinggi dan akhirnya jatuh menyakitkan.”
Arga mengepalkan tangannya, tetapi ia memilih menahan emosi.
“Kalau kamu memang menyukai Citra, seharusnya kamu menghargai pilihannya. Bukan merendahkan orang lain.”
Dion pergi dengan wajah kesal.
Sejak kejadian itu, suasana sekolah mulai berubah. Gosip tentang hubungan Arga dan Citra menyebar ke mana-mana. Sebagian teman mendukung mereka, tetapi sebagian lainnya meragukan apakah hubungan tersebut bisa bertahan.
Melisa, sahabat Citra, mencoba menenangkan keadaan.
“Cit, kalau kamu memang mencintai Arga, kamu harus berani jujur kepada orang tuamu. Kamu tidak bisa terus menyembunyikan semuanya.”
Citra menghela napas panjang.
“Aku takut kehilangan dia, Lis. Tapi aku juga takut mengecewakan keluargaku.”
Melisa menggenggam tangan sahabatnya.
“Cinta itu bukan cuma soal bahagia ketika bersama. Cinta juga tentang keberanian menghadapi masalah dengan jujur.”
Kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran Citra.
Hingga suatu malam, semuanya terbongkar.
Ayah Citra mengetahui bahwa putrinya sering menghabiskan waktu bersama Arga. Ia langsung melarang Citra bertemu dengan pemuda itu.
“Papa menyekolahkan kamu untuk masa depan yang baik, bukan untuk menjalin hubungan yang akan mengganggu cita-citamu!” tegas ayahnya.
“Tapi, Pa, Arga anak yang baik. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk kepadaku,” jawab Citra dengan suara bergetar.
“Papa tidak ingin membahasnya lagi. Mulai besok, kamu harus menjaga jarak dengannya!”
Citra menangis di kamarnya. Ia ingin menjelaskan bahwa Arga adalah seseorang yang membuatnya merasa bahagia, seseorang yang selalu menghargai dirinya tanpa memandang harta atau kedudukan.
Namun, ia belum memiliki keberanian untuk melawan keputusan keluarganya.
Keesokan harinya, Citra mulai menjauhi Arga. Pesan-pesannya tidak lagi dibalas. Senyum yang dahulu menyambut Arga setiap pagi kini menghilang begitu saja.
Arga kebingungan.
Ia mencoba bertanya kepada Melisa, tetapi Melisa hanya mengatakan bahwa Citra sedang menghadapi masalah keluarga.
Sampai akhirnya, Arga memutuskan menemui Citra sepulang sekolah.
“Cit, apa salahku?” tanyanya dengan suara pelan.
Citra menunduk. Ia berusaha menahan air mata.
“Kamu tidak salah, Ga.”
“Lalu kenapa kamu menjauh? Kalau ada masalah, kita bisa membicarakannya bersama.”
Citra menggigit bibirnya, berusaha mencari kata-kata yang tepat.
“Aku ingin kita berhenti dulu. Aku tidak mau hubungan ini membuat keluargaku semakin kecewa.”
Arga terdiam. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menghantam dadanya.
“Jadi, selama ini aku cuma menjadi seseorang yang bisa kamu tinggalkan ketika keadaan menjadi sulit?”
“Bukan begitu, Ga!” jawab Citra sambil menangis.
“Lalu bagaimana? Aku tidak pernah meminta kamu memilih antara aku dan keluargamu. Aku hanya ingin kamu jujur kepadaku.”
Air mata Citra akhirnya jatuh.
“Aku masih menyayangimu, Arga. Tapi aku tidak tahu bagaimana memperjuangkan semuanya.”
Arga memandang Citra untuk terakhir kalinya sore itu.
“Kalau begitu, aku tidak akan memaksamu. Aku hanya berharap, suatu hari nanti kamu tidak menyesal karena membiarkan rasa takut menentukan kebahagiaanmu.”
Arga pergi dengan hati yang hancur.
Sore itu, ia kembali ke tempat yang pernah menjadi saksi awal kedekatan mereka. Di bawah cahaya Jembatan Ampera, ia duduk memandang Sungai Musi yang terus mengalir.
Ia teringat tawa Citra, percakapan sederhana mereka, dan janji-janji kecil yang pernah membuatnya percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segala perbedaan.
Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Hari-hari berikutnya terasa berat bagi keduanya. Arga memilih fokus belajar dan membantu ibunya. Ia tidak ingin kesedihan membuatnya melupakan cita-cita yang telah lama diperjuangkannya.
Sementara itu, Citra mulai menyadari bahwa menjauh dari Arga tidak serta-merta menghilangkan perasaannya. Justru dalam kesunyian, ia semakin memahami betapa berharganya seseorang yang mencintainya dengan tulus.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan acara perpisahan menjelang kelulusan.
Citra melihat Arga berdiri bersama Farel di halaman sekolah. Pemuda itu terlihat lebih tenang, tetapi ada kesedihan yang belum sepenuhnya hilang dari matanya.
Citra memberanikan diri menghampirinya.
“Ga, boleh kita bicara sebentar?”
Arga mengangguk.
Dengan suara lirih, Citra berkata, “Aku minta maaf. Aku seharusnya tidak membuatmu bertanya-tanya. Aku takut menghadapi semuanya, sampai akhirnya aku menyakiti orang yang justru selalu berusaha memahami aku.”
Arga terdiam sejenak.
“Aku memaafkanmu, Cit. Tapi kita juga harus belajar bahwa perasaan saja tidak selalu cukup. Kita perlu keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab.”
Citra mengangguk sambil menyeka air matanya.
“Aku mengerti.”
Mereka tidak langsung kembali seperti dahulu. Mereka memilih menyelesaikan pendidikan dan memikirkan masa depan masing-masing. Citra mulai belajar berbicara jujur kepada keluarganya, sedangkan Arga terus mengejar cita-citanya agar kelak dapat membangun kehidupan yang lebih baik.
Beberapa waktu kemudian, mereka bertemu kembali di kawasan Jembatan Ampera.
Tidak ada lagi seragam putih abu-abu. Mereka telah tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, membawa pengalaman dan pelajaran dari masa lalu.
Citra tersenyum ketika melihat Arga.
“Tempat ini masih sama, ya?”
Arga memandang jembatan yang berdiri megah di hadapan mereka.
“Iya. Yang berubah mungkin kita.”
Mereka tertawa kecil.
Di bawah gemerlap Ampera, keduanya menyadari bahwa cinta pertama tidak selalu harus berakhir dengan kepemilikan.
TAMAT — Cinta Terlarang di Bawah Gemerlap Ampera. ❤️🌉
#cintaterlarang#CintaSMA#kisahRoman#kisahAmpera