Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

BAB 9 — Dosen Dari Masa Lalu

BAB 9 — Dosen Dari Masa Lalu gambar oleh Yayang Kiki
Pagi itu, Anna berangkat ke kampus dengan langkah terburu-buru. Ia hampir terlambat mengikuti kelas pertamanya setelah semalam menyelesaikan tugas kuliah bersama Nisa. “Anna, cepat! Katanya hari ini ada dosen baru yang mengajar kelas kita,” ujar Nisa sambil menarik pelan lengan sahabatnya. “Iya, iya. Aku juga penasaran dosennya seperti apa,” jawab Anna sambil merapikan kerudungnya. Mereka segera masuk ke ruang kelas dan memilih tempat duduk di barisan tengah. Beberapa mahasiswa terdengar membicarakan dosen baru yang kabarnya masih muda, tetapi memiliki pengalaman mengajar di lingkungan pesantren. Anna tidak terlalu memikirkannya. Ia sibuk membuka buku catatan dan menyiapkan alat tulis. Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang lelaki masuk dengan kemeja putih dan celana hitam. Ia membawa beberapa buku serta sebuah laptop. Suasana kelas yang semula ramai perlahan menjadi tenang. “Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” “Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab para mahasiswa serempak. Anna mengangkat wajahnya. Seketika, tangannya berhenti bergerak. Lelaki itu berdiri di depan kelas dengan tatapan tenang yang sangat dikenalnya. Albi. Anna berkedip beberapa kali, berharap dirinya tidak salah melihat. Namun, ketika lelaki itu memperkenalkan diri, semua keraguannya lenyap. “Perkenalkan, nama saya Albi. Mulai semester ini, saya akan mengajar mata kuliah Pendidikan Karakter dan Etika Keislaman.” Anna menunduk, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana mungkin Albi menjadi dosennya? Bukankah selama ini Albi sibuk mengurus pesantren keluarganya? Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikirannya. Sementara itu, Albi mulai menjelaskan materi. Ia berbicara dengan tenang dan teratur, membuat para mahasiswa memperhatikannya dengan serius. Namun, sesekali pandangannya berhenti pada seorang mahasiswi berkerudung yang duduk di barisan tengah. Anna. Ia pun tidak menyangka akan menemukan Anna di kelas yang akan diajarnya. Gadis itu terlihat lebih dewasa daripada yang diingatnya. Wajahnya masih sama, tetapi kini ada kepercayaan diri yang berbeda dalam caranya berbicara dan bersikap. Albi segera mengalihkan pandangannya kembali ke papan tulis. Ia harus bersikap profesional. Bagaimanapun, sekarang mereka tidak lagi berada di pesantren sebagai dua orang yang pernah berbagi cerita dan kenangan. Mereka berada di lingkungan kampus dengan peran yang berbeda. Ketika kelas berakhir, para mahasiswa mulai membereskan barang-barang mereka. Anna segera memasukkan buku ke dalam tas, berharap bisa keluar sebelum Albi menyadari keberadaannya. Sayangnya, harapannya tidak terkabul. “Anna, bisa sebentar?” Langkahnya terhenti. Nisa yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. “Kamu kenal Pak Albi?” Anna tersenyum canggung. “Kenal. Kami teman lama.” “Oh, begitu. Aku tunggu di luar, ya.” Setelah Nisa pergi, Anna berjalan mendekati meja dosen. “Assalamu'alaikum, Pak,” sapanya dengan senyum tipis. Albi mengangkat alis mendengar panggilan itu. “Wa'alaikumussalam. Pak?” tanyanya, hampir tertawa. Anna menggaruk pelan pipinya. “Ya, sekarang kamu dosenku. Masa aku panggil Albi saja?” Albi tersenyum kecil. “Terserah kamu. Tapi memang aneh juga mendengar kamu memanggilku begitu formal.” “Yang aneh itu kenapa kamu bisa menjadi dosen di sini?” Anna balik bertanya. “Bukannya kamu sibuk mengurus pesantren?” “Aku masih membantu Ayah. Kebetulan ada kesempatan mengajar di kampus ini, jadi aku mencoba mengambilnya.” Anna mengangguk pelan. “Selamat, ya. Aku ikut senang melihatmu sampai di titik ini.” “Terima kasih. Kamu juga akhirnya berhasil kuliah.” Ada jeda singkat di antara mereka. Kalimat sederhana itu membawa keduanya kembali pada masa ketika Anna masih menjadi santri baru yang sering kebingungan, sementara Albi adalah sosok tenang yang sesekali membantunya. Anna teringat saat mereka menyiapkan kegiatan kajian bersama, belajar di sela-sela kesibukan pesantren, dan berbicara tentang cita-cita. Dahulu, ia tidak pernah menyadari betapa pentingnya kehadiran Albi dalam hari-harinya. Namun, setelah mereka berpisah, ada bagian dari kenangan itu yang ternyata tidak pernah benar-benar hilang. “Bagaimana kabarmu selama ini?” tanya Albi. “Baik. Aku mengajar anak-anak mengaji sebelum kuliah. Lumayan membantu keluarga juga.” Albi mengangguk kagum. “Kamu memang selalu berusaha melakukan yang terbaik.” Pujian itu membuat Anna terdiam sesaat. Entah mengapa, mendengar kalimat tersebut langsung dari Albi terasa berbeda. “Terima kasih,” jawabnya pelan. Mereka kembali terdiam, seolah masing-masing sedang berusaha memahami perasaan yang muncul tanpa diundang. Akhirnya, Albi melihat jam tangannya. “Kamu sebaiknya menyusul temanmu. Kita bisa bicara lagi lain waktu.” Anna mengangguk. “Baik, Pak Dosen.” Albi tertawa kecil. “Jangan sengaja menggodaku.” “Siapa yang menggoda?” Anna menjawab sambil tersenyum, lalu bergegas keluar kelas. Namun, begitu sampai di lorong, senyumnya perlahan memudar. Ia tidak mengerti mengapa pertemuan singkat itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Di luar kelas, Nisa langsung menghampirinya. “Jadi, kalian benar-benar teman lama?” Anna mengangguk. “Cuma teman?” Anna menatapnya heran. “Memangnya harus apa lagi?” Nisa tertawa kecil. “Tidak harus apa-apa. Aku cuma penasaran karena wajahmu berubah sejak dia masuk kelas tadi.” “Sudahlah, jangan mengada-ada.” Anna berjalan lebih dahulu, tetapi pikirannya masih tertinggal di ruang kelas. Ia pernah mengira bahwa waktu dan jarak akan membuat semua kenangan masa pesantren menjadi bagian dari masa lalu. Namun, kehadiran Albi membuktikan bahwa beberapa perasaan tidak semudah itu dilupakan. Di sisi lain, Albi masih duduk di ruang kelas yang mulai sepi. Ia memandangi daftar mahasiswa di laptopnya, lalu berhenti pada nama Anna. Ia teringat percakapan mereka bertahun-tahun lalu, juga keputusan-keputusan yang pernah ia ambil demi mendahulukan tanggung jawab keluarga. Albi tahu, ia harus menjaga batasan sebagai dosen. Anna adalah mahasiswinya, dan ia tidak boleh membiarkan perasaan pribadi memengaruhi tugasnya. Namun, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa pertemuan itu membangkitkan sesuatu yang selama ini berusaha ia simpan. Mereka telah tumbuh dan memilih jalan masing-masing. Tetapi rupanya, waktu belum sepenuhnya menyelesaikan cerita di antara mereka. Dan kini, ketika Anna kembali hadir dalam kehidupannya, Albi harus belajar membedakan antara kenangan yang indah, perasaan yang tersisa, dan tanggung jawab yang tidak boleh ia abaikan.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

3 Komentar