Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

BAB 10 — Biru Pulang

BAB 10 — Biru Pulang gambar oleh Yayang Kiki
Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan di luar negeri, akhirnya Biru kembali ke Indonesia. Pesawat yang ditumpanginya mendarat dengan sempurna di bandara. Biru melangkah keluar dengan setelan kemeja putih, celana hitam, dan sebuah koper di tangan. Wajahnya terlihat lebih dewasa, dengan tatapan tajam dan ekspresi yang sulit ditebak. Tidak ada lagi Biru yang dulu suka menggoda teman-temannya, berbicara dengan penuh percaya diri, atau sengaja mencari perhatian Anna. Kini, ia menjadi pria yang lebih tenang, dingin, dan cenderung cuek. “Selamat datang kembali, Tuan Biru.” Seorang pria berpakaian rapi menghampirinya. Namanya Raka, teman lama yang kini membantu Biru mengurus beberapa urusan bisnis. Biru mengangguk singkat. “Mobilnya?” “Sudah menunggu di depan, Tuan.” “Ayo.” Hanya itu jawabannya. Raka menghela napas kecil. Ia sudah mengenal Biru sejak lama, tetapi perubahan sahabatnya itu tetap terasa luar biasa. Dahulu, Biru selalu memiliki bahan candaan untuk setiap keadaan. Sekarang, berbicara dengannya terasa seperti menghadapi seorang direktur perusahaan yang tidak suka membuang waktu. Namun, Raka memahami bahwa banyak hal telah mengubah Biru selama berada di luar negeri. Kesepian, tekanan pendidikan, dan perjuangan membuktikan dirinya telah membuat Biru belajar menjadi lebih mandiri. Ia tidak lagi ingin hidup hanya untuk mendapatkan pengakuan orang lain. Kini, ia ingin membangun sesuatu yang benar-benar menjadi miliknya. Beberapa bulan setelah kepulangannya, Biru mulai merintis bisnis sendiri. Dengan bekal pendidikan, pengalaman, dan tabungan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun, ia mendirikan perusahaan kecil yang bergerak di bidang teknologi dan layanan bisnis. Pada awalnya, semuanya tidak berjalan mudah. Ia harus mencari klien, membangun kepercayaan, merekrut karyawan, dan menghadapi berbagai masalah yang tidak pernah dipelajarinya secara langsung di bangku kuliah. Beberapa proyek bahkan mengalami kegagalan. “Pak, klien dari perusahaan sebelah membatalkan kerja sama,” lapor Raka suatu pagi. Biru tetap menatap layar laptopnya. “Kenapa?” “Mereka merasa penawaran kita terlalu berisiko.” “Baik. Cari klien lain.” Raka terdiam. “Bapak tidak ingin mencoba meyakinkan mereka lagi?” Biru akhirnya mengangkat wajah. “Kalau mereka tidak percaya pada kemampuan kita, kita tidak perlu memaksa. Perbaiki kekurangannya, lalu cari peluang yang lebih baik.” Jawabannya terdengar sederhana, tetapi Raka memahami maksudnya. Biru tidak lagi mudah terpancing emosi. Ia memilih menyelesaikan masalah daripada menghabiskan waktu untuk mengeluh. Perlahan, perusahaan kecil itu mulai berkembang. Satu klien berubah menjadi beberapa klien. Kerja sama lokal membuka jalan menuju proyek yang lebih besar. Biru juga mulai memperluas tim dan membangun jaringan bisnis dengan berbagai perusahaan. Dalam beberapa tahun, usahanya tumbuh pesat hingga menjadi perusahaan besar dengan kantor sendiri dan puluhan karyawan. Namanya mulai dikenal di kalangan pengusaha muda. Banyak orang mengagumi keberhasilannya. Namun, tidak banyak yang mengetahui berapa banyak malam yang ia habiskan untuk bekerja, berapa kali ia mengalami kegagalan, dan berapa banyak keraguan yang harus ia hadapi sendirian. Biru tidak pernah banyak bercerita tentang perjuangannya. Baginya, hasil lebih penting daripada pengakuan. Suatu sore, Biru duduk di ruang kerjanya yang luas. Dari balik dinding kaca, ia dapat melihat gedung-gedung tinggi dan kendaraan yang berlalu-lalang. Di atas meja terdapat beberapa dokumen kerja sama yang harus ditandatangani. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari grup percakapan lama mereka. Anna: "Kalian kapan ada waktu buat ketemu? Sudah lama banget kita nggak kumpul." Albi: "Aku bisa akhir pekan depan, kalau tidak ada kegiatan mendadak di pesantren." Biru membaca pesan itu tanpa ekspresi berarti. Lalu, ia mengetik balasan. Biru: "Bisa. Tentukan tempatnya saja." Tidak lama kemudian, Anna membalas. Anna: "Tumben banget kamu gampang diajak ketemu. Biasanya sibuk atau malah menghilang." Biru tersenyum tipis. Biru: "Aku memang sibuk. Tapi bukan berarti lupa punya teman." Albi: "Wah, akhirnya Tuan Besar punya waktu untuk rakyat jelata." Biru: "Daripada kamu, kerjaannya cuma mengurus santri." Anna: "Kalian berdua nggak berubah, ya." Biru menatap layar ponselnya beberapa saat. Senyum kecil yang muncul di wajahnya perlahan menghilang ketika ia kembali teringat masa lalu. Anna masih sama. Setidaknya, dari cara gadis itu berbicara, ia masih mengenali sosok Anna yang dahulu. Sementara Albi kini semakin sibuk dengan pesantren dan tanggung jawab keluarganya. Mereka bertiga telah menjalani kehidupan yang berbeda. Namun, entah bagaimana, persahabatan itu masih bertahan. Biru meletakkan ponselnya, lalu kembali menatap pemandangan di luar jendela. Ia telah mendapatkan banyak hal yang dahulu diinginkannya: pendidikan, kebebasan, dan keberhasilan yang dibangun dengan usahanya sendiri. Namun, ada satu hal yang belum benar-benar ia pahami. Apakah kesuksesan yang selama ini dikejarnya mampu membuatnya merasa utuh? Atau justru ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal di masa lalu? Biru menghela napas, kemudian kembali membuka dokumen di hadapannya. Untuk saat ini, ia memilih fokus membangun masa depan. Ia belum tahu bahwa kepulangannya ke Indonesia bukan hanya akan mempertemukannya kembali dengan sahabat lama, tetapi juga membawanya berhadapan dengan perasaan yang selama ini berusaha ia tinggalkan. Biru telah kembali sebagai pria yang berbeda. Namun, masa lalu yang pernah membentuk dirinya belum tentu selesai begitu saja.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

3 Komentar