Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Aroma Kopi Tubruk Bapak Dan Rahasia Di Balik Diamnya Seorang Ayah
Ayahku bukan tipe orang yang pandai berkata "aku sayang kamu". Seumur hidupku, aku tidak pernah mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya. Bahasa cintanya aneh, bahkan terkadang menjengkelkan saat aku masih remaja dulu.
Baginya, menunjukkan kasih sayang cukup dengan hal-hal sepele:
diam-diam membelikan obat nyamuk bakar karena tahu kamarku banyak nyamuk,
memanaskan motorku setiap subuh agar siap dipakai kuliah, atau meletakkan secangkir kopi tubruk hangat di atas meja belajarku tanpa suara, lalu langsung pergi menutup pintu kamar pelan-pelan.
Dulu, aku sering salah mengartikan diamnya. Aku mengira Bapak adalah sosok yang kaku, dingin, dan tidak peduli dengan ambisiku.
Hingga suatu malam, ketika aku sudah bekerja dan merantau di kota lain, aku pulang tanpa memberi tahu karena rindu setengah mati.
Rumah sepi.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Saat aku mendorong pintu depan yang tidak terkunci, kulihat Bapak duduk sendirian di ruang tamu yang remang-remang. Di depannya ada segelas kopi tubruk yang mengepul, dan di tangannya... sebuah kliping koran usang.
Rupanya, itu adalah kliping artikel pertamaku yang dimuat di media lokal bertahun-tahun lalu.
Bapak memotongnya sendiri, merapikannya dengan selotip bening di pinggirannya, lalu menyimpannya di dalam laci meja kerjanya yang paling dalam.Matanya berkaca-kaca saat melihatku berdiri di ambang pintu. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, lelaki paruh baya yang punggungnya mulai membungkuk itu berdiri, berjalan mendekatiku, lalu menepuk pelan pundakku sambil berbisik serak,
"Kamu sudah makan, Nak?"
Pertanyaan sederhana, tetapi dadaku langsung runtuh. Seketika aku sadar, cinta seorang ayah tidak pernah diukur dari seberapa banyak kata manis yang ia ucapkan, melainkan dari seberapa besar ruang dalam hatinya yang ia sediakan untuk mendoakan kita dalam diam.
Like jika kamu menyukai cerita ini.