Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Api Dilangit Bandung

Api Dilangit Bandung gambar oleh Widiana Saputra
Malam itu, langit Bandung tidak berhias bintang, melainkan memerah oleh kobaran api yang menjilat angkasa. Udara bulan Maret 1946 terasa pekat oleh asap, debu, dan aroma mesiu, mengiringi langkah ribuan pasang kaki yang bergegas menyusuri jalanan tanah menuju perbukitan di selatan. ​Di sudut gang lengang dekat Stasiun Andir, seorang pemuda bernama Bima berdiri mematung di depan rumah papan sederhana yang menyimpan seluruh sisa masa kecilnya. Tangannya menggenggam erat obor bambu yang menyala terang, bergetar bukan karena dinginnya angin malam, melainkan oleh beratnya keputusan yang harus segera ia ambil. Instruksi dari markas Tentara Republik Indonesia sudah sangat jelas dan tidak bisa ditawar: kosongkan dan bumihanguskan kota. Tidak boleh ada satu pun bangunan, gudang, atau pos berharga yang dibiarkan utuh untuk dimanfaatkan oleh pasukan Sekutu yang terus mendesak. ​Ibunya sudah lebih dulu mengungsi bersama rombongan pertama sejak sore tadi, hanya membawa buntalan kain berisi pakaian secukupnya dan doa yang tak putus-putus. Bima menatap bingkai kayu berisi foto kusam mendiang ayahnya di dinding ruang tamu untuk terakhir kalinya, merekam setiap sudut kenangan ke dalam benaknya. Ia mengingat aroma pisang goreng buatan ibunya di teras depan, dan suara tawa kawan-kawan seperjuangannya saat mereka belajar merakit senapan laras panjang di halaman samping. ​Dengan tarikan napas panjang yang terasa menyayat dada, Bima menyentuhkan ujung obornya ke tirai jendela yang terbuat dari kain katun tipis. Api seketika menjalar liar, melahap kayu-kayu kering dan membesar dalam hitungan detik. Hawa panas langsung menerpa wajahnya yang berlumur jelaga, seolah memberikan salam perpisahan yang menyakitkan namun penuh dengan kehormatan. ​Ia memaksakan diri mundur beberapa langkah, menelan ludah getir membiarkan tempat bernaungnya berubah menjadi abu demi sebuah kata yang saat itu baru seumur jagung: Merdeka. Bima membalikkan badan, menyandang senapan Arisaka rampasan di bahu kanannya, dan berlari menerobos kegelapan untuk menyusul barisan rakyat dan pejuang yang mulai menghilang di balik pekatnya malam. Di belakangnya, rumah itu runtuh dalam kobaran api yang megah, bergabung dengan ribuan bangunan lain yang menyala serentak mengubah kota kelahirannya menjadi lautan api—sebuah pengorbanan sunyi yang kelak akan terus menyala abadi dalam lembar sejarah bangsa.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar
.