Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Amanah Dari Sang Ayah 9
Aku berdehem kecil, melirik sebentar arah Ethan. Aduh, gimana ya jawabnya. Jadi bingung sehingga semua mata tertuju kepadaku. "Tidak keberatan sama sekali, Om." Ucapanku langsung ditegur Mama Bella. Kalau Isabella kepanjangan. Makanya aku inisiatif dipendekin aja, biar gampang. "Papa, Nak Rahel. Kita sudah anggap kamu seperti ana k sendiri." Imbuh Mama menatapku tulus, pun matanya memancarkan berbinar tanpa ada paksaan sama kali. Real, tidak bermuka dua. Tersenyum kikuk, aku segera meminta maaf, "Maaf, Pa." Tampak Papa manggut-manggut, "enggak apa-apa, Nak Rahel. Tapi seenggaknya dari sekarang menyebut Papa, jangan Om lagi." Tuturnya aku angguki patuh. "Ethan mau ajak Rahel keluar Pa, Ma." Aku tengah memakan buah anggur sebagai makanan penutup, auto kes elek biji. "Astaga, Nak. Minum dulu gih." Mama sigap menyodorkan air putih. Beliau ternyata lebih peka ketimbang an ak semata wayangnya itu, "terima kasih, Ma." Alhamdulillah, aku enggak jadi m a ti. Jikalau iya, Ethan sudah berubah status menjadi du da. Padahal belum dua puluh empat jam semenjak dia mengucapkan ijab kabul. "Kamu ini. Sekalinya ngomong bikin mantu Papa keselek anggur." Gerutu Papa menatap t ajam Ethan. Me nggaruk pipi merasa dibela mertua sendiri, "Ethan ana knya Mama dan Papa. Kenapa belain dia yang notabennya masih orang lain di-- " Mama menaruh sendok lumayan kencang. Sementara aku urung ambil anggur merasa sakit hati atas ucapan Ethan barusan. Aku masih di anggap orang lain kah sama dia meskipun kami sudah sah sebagai pasangan suami istri? Rasanya seperti ada ribuan jarum me nusuk hingga men embus jan tung. Apakah ini yang dinamakan sa kit tak berdarah. Sampai ulu hati cenut-cenut tanpa ada jeda sedikit pun. "Masih orang lain?" Aku memilih menyandarkan punggung seraya menunduk untuk pengalihan. Apa di luaran sana sependapat bila dua orang lawan jenis sudah disatukan dalam ikatan halal, pantaskah suaminya menyebut sang istri orang lain bukan di anggap keluarga terdekat. Ya Tuhan, ada apa denganku malam ini. Kenapa bisa se-mellow juga dramatis. "Rahel istri sah kamu, Ethan!" Mama berucap tegas, penuh penekanan di setiap katanya, "kamu anggap mantu Mama masih orang lain??" Sedikit memejamkan mata ketika beliau me ngumpati ana knya. "Coba pikir secara logika. Kamu sudah dewasa. Umur tiga puluh empat, bukan a nak-a nak usia empat tahun!!" "Silahkan kamu mau ajak Rahel keluar. Tapi ingat, jangan apa-apakan mantu Mama!! Sekali me nyakiti, maka ahli war is akan berpindah nama." Lewat sudut mata, Ethan men gepalkan kedua tangannya. "Oke, Ethan minta maaf." Aku agak kaget saat Mama menyuruhku mengangkat kepala, "kalau Ethan nyakitin kamu, gak usah sungkan hubungin Mama ya, sayang." Tanganku ge metar. Pikiran berspekulasi jika Ethan merasa tersingkirkan setelah ada aku di antara mereka. Om satu itu memang susah ditebak. Kadang bikin deg-degan, takut, dan sekarang membuatku ketar-ketir. Gimana nasibku bila seterusnya tinggal di mansion sebesar dan semegah ini berduaan, ditambah ART lima orang, tukang kebun, serta security. Melaksanakan solat isya berjamaah, kedua orang tua Ethan pamitan pulang. Mengira mereka berdua tinggal di sini bersama kami, ternyata dugaanku melesat. "Handphone kamu mana, Nak? Mama pinjam dulu bentar, boleh?" Ethan masuk duluan ke dalam. Tinggal aku masih menunggu Mama masuk mobil Audi warna hitam. Mengetik kata sandi, aku mengangsurkan benda pintar sejuta umat tersebut, "Finish, Mamah udah simpan nomor whatsapp di handphone kamu." Oalah, tak kirain mau buat apa. "Inget loh pesan Mama yang tadi." "Iya, Ma. Aku enggak lupa kok." Berpelukan selama tiga detik, Mama melambaikan tangan sembari membuka pintu mobil. ••• Judul : Amanah Dari Sang Ayah Penulis : Laniarifa_23 Tamat Di KBM App