Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Aku Turut Berjoget Di Jalanan Kota Tua, Istriku. Turut Larut Dalam Sihir
Angklung tegalan bersama rombongan muda-mudi bahagia. Barangkali mereka dari Bojong, Sawangan, atau mungkin pelancong Sumatera tersesat dan kehabisan sewa losmen.
Aku turut berjoget bersama mereka. Karena dalam joget aku lihat bagian sebenarnya dari kota ini. Kota dimana patung-patung dipahat dari gamping gunung lalu dibenamkan dalam akuarium. Kota dimana mataku ditundukkan tembakan laser dan jantungku dibuat remuk udara menggila. Kota dengan orang-orang memasang lentera pada pantat mereka, melipat nasib dalam ponsel, berdoa sekaligus mengumpat sebisanya agar jalur-jalur trem dibangun dengan segera.
Kupasang baju hangat, kuselempangkan sarung, dan aku turut berjoget di jalanan kota tua itu. Aku jadi paham, bahwa revolusi turut dikumandangkan dalam dangdut koplo. Aku terus berjoget sebab mereka juga terus berjoget. Bagian lain dari kota ini telah menemukan juru selamat mereka: tukang gendang berkaki pincang, pemain angklung bermuka murung, serta biduanita dengan dada tersumbul semenjana.
Dalam joget aku juga ingat kota kita. Serasa dihembus angin pedalaman itu pada punggungku, serasa sampai debur ombak yang tertahan itu ke pangkal telingaku, dan serasa dipiuh-dipilin tali jantungku pada retakan tungku batu. Dalam joget aku terus terbayang jauh ke seberang sana, ke kota kita. Di sana, sebuah puisi akan terus tumbuh, akan terus bergemuruh.
#like#komen#follow