Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Aisha Dan Jeep Hijaunya
Keesokan paginya, Aisha tidak duduk di bawah pohon. Tas pinknya sudah penuh, sepatu putihnya sudah diikat kencang. Hari ini adalah hari yang sudah ia tunggu sejak lama: ekspedisi menyusuri Sungai yang belum pernah ia lewati. Jeep hijau kesayangannya, yang biasa ia sebut Si Hijau Lumut, sudah meraung pelan di halaman. Teman-teman melambai dari Jeep mereka. "Yakin mau ikut jalur air, Sha? Jalurnya agak dalam lho!" kata salah satu dari mereka. Aisha cuma mengangguk sambil tersenyum. "Justru itu serunya." Perjalanan dimulai. Hutan di kiri kanan begitu lebat, gunung-gunung menjulang seperti lukisan. Tidak lama, jalan aspal habis dan berganti menjadi bebatuan licin dan aliran sungai yang jernih. Inilah bagian favorit Aisha. Si Hijau Lumut menerjang air. _Byurrr!_ Air muncrat ke segala arah, membasahi kaca depan, membasahi jilbabnya. Aisha tertawa lepas. Di momen seperti ini, ia tidak merasa seperti cewek pendiam yang duduk di bawah pohon. Ia merasa seperti penjelajah kecil. Tiba-tiba, rombongan berhenti. Di depan, peta menunjukkan belokan kanan, tapi di lapangan hanya ada semak lebat. "Peta salah kayaknya," kata ketua rombongan sambil menggaruk kepala. Semua orang membuka GPS, tapi sinyal hilang. Aisha turun dari Jeep. Air sungai dingin menyentuh mata kakinya. Ia membuka peta kertas kecil yang selalu ia simpan di tas pinknya, peta pemberian ayahnya. Ia ingat pesan ayahnya: "Kalau peta besar bikin bingung, ikuti arah air. Air selalu tahu jalan pulang." Aisha melihat aliran air, melihat lumut di batu, dan melihat celah kecil di antara dua tebing hijau yang tersembunyi oleh daun palem. "Coba lewat sana," tunjuknya. Awalnya ragu, tapi ketua rombongan mengikuti. Dan benar, di balik celah itu ada jalur sungai yang lebih lebar, lebih indah, dengan air terjun kecil di ujungnya. Tempat yang bahkan tidak ada di Google Maps. Semua bersorak. Di tepi sungai itu, Aisha duduk lagi, seperti kebiasaannya di bawah pohon. Bedanya, kali ini kakinya terendam air sungai, Jeep hijau terparkir di belakangnya, dan ia memegang peta dengan bangga. Ia sadar, keberanian bukan soal tidak takut. Keberanian adalah tetap maju meski peta yang dipegang salah, karena ia percaya alam akan menunjukkan jalannya sendiri. Dan sore nanti, ketika ia pulang, ia pasti akan kembali duduk di bawah pohon, menceritakan pada pohon itu tentang sungai rahasia yang baru saja ia temukan.