Setiap hari kita melihat tanggal di ponsel, kalender dinding, atau komputer tanpa pernah benar-benar... Lihat Selengkapnya
Setiap hari kita melihat tanggal di ponsel, kalender dinding, atau komputer tanpa pernah benar-benar memikirkan asal-usulnya. Kalender dengan 12 bulan terasa begitu biasa sehingga banyak orang menganggap sistem ini sudah ada sejak awal peradaban. Padahal, bentuk kalender yang digunakan hampir seluruh dunia saat ini merupakan hasil perjalanan sejarah yang berlangsung selama ribuan tahun. Berbagai kerajaan, ilmuwan, dan pemimpin pernah mengubah cara manusia menghitung waktu hingga akhirnya lahirlah sistem kalender modern yang kita gunakan sekarang.
Salah satu cikal bakal kalender modern berasal dari Romawi Kuno. Menurut catatan sejarah, kalender Romawi paling awal hanya memiliki 10 bulan dengan total sekitar 304 hari. Saat itu, musim dingin bahkan tidak dihitung sebagai bagian dari kalender karena dianggap tidak memiliki aktivitas pertanian yang penting. Beberapa waktu kemudian, Raja Numa Pompilius menambahkan dua bulan baru, yaitu Januari dan Februari, sehingga jumlah bulan menjadi 12 seperti yang dikenal sekarang.
Meski sudah memiliki 12 bulan, kalender tersebut masih belum benar-benar akurat. Jumlah harinya tidak sesuai dengan waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari. Akibatnya, musim perlahan bergeser dari waktu yang seharusnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, Julius Caesar memperkenalkan Kalender Julian pada tahun 45 sebelum Masehi. Dengan bantuan para astronom, ia menetapkan satu tahun terdiri dari 365 hari serta menambahkan satu hari setiap empat tahun sekali yang kemudian dikenal sebagai tahun kabisat.
Kalender Julian bertahan selama lebih dari 1.600 tahun sebelum ditemukan adanya selisih kecil yang terus bertambah setiap abad. Pada abad ke-16, perbedaan itu sudah mencapai sekitar sepuluh hari. Untuk memperbaikinya, Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian pada tahun 1582. Sistem inilah yang masih digunakan oleh sebagian besar negara hingga sekarang. Perubahan terbesarnya adalah aturan baru mengenai tahun kabisat sehingga panjang rata-rata satu tahun menjadi lebih mendekati waktu revolusi Bumi mengelilingi Matahari.
Nama-nama bulan yang kita gunakan juga memiliki sejarah menarik. Januari berasal dari Janus, dewa gerbang dan awal yang baru dalam mitologi Romawi. Maret diambil dari Mars, dewa perang. Juli dinamai untuk menghormati Julius Caesar, sedangkan Agustus diambil dari nama Kaisar Augustus. Sementara itu, bulan September hingga Desember sebenarnya berasal dari angka Latin yang berarti tujuh hingga sepuluh. Nama-nama tersebut tetap dipertahankan meskipun posisinya berubah setelah Januari dan Februari ditambahkan ke dalam kalender.
Kalender modern adalah contoh bagaimana ilmu pengetahuan, astronomi, dan sejarah saling berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem yang kini terlihat sederhana ternyata merupakan hasil penyempurnaan selama ribuan tahun. Setiap kali kita melihat tanggal di kalender, sebenarnya kita sedang menggunakan warisan sejarah panjang yang telah membantu manusia mengatur waktu, bercocok tanam, bernavigasi, hingga menjalankan aktivitas di seluruh dunia.
Suka nulis artikel, cerita? atau sekadar unggah gambar dan video?
Gabung di Zoyalink sekarang!
ZOYALINK adalah platform untuk berbagi cerita, gambar, dan video. Kami percaya setiap karya pantas dilihat banyak orang. Untuk mendukung kreator aktif, kami menghadirkan Program Kreator.