JANGAN PERNAH MENDONGAK
Malam itu, hujan deras mengguyur desa tanpa henti, menyisakan suara petir yang saling bersahutan di atas atap rumah kayu tua milikku.
Aku duduk sendirian di ruang tamu, hanya ditemani sebatang lilin kecil yang apinya terus bergoyang tertiup angin dingin dari celah jendela.
Tepat pukul dua malam, pintu kamar mandi di belakang rumah mendadak terbuka dengan suara deritan kayu yang memilukan.
Awalnya aku mengira itu cuma ulah angin malam, sampai akhirnya terdengar bunyi kecipak air yang diperas perlahan-lahan di dalam sana.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil senter kusam di atas meja dan melangkah perlahan menuju lorong gelap tersebut.
Setiap langkah kaki terasa amat berat, diiringi aroma amis darah dan tanah basah yang mendadak menyengat hidung.
Saat sorot lampu senter menyentuh lantai kamar mandi, aku melihat jejak kaki berdarah merayap naik ke dinding hingga menembus langit-langit.
Bulu kudukku berdiri tegak seketika saat mendengar embusan napas berat yang dingin tepat di atas kepalaku.
Perlahan aku mengarahkan sorot senter ke atas, dan tepat di atap kamar mandi, sosok tanpa wajah sedang merayap terbalik menghadapku.
Bibirnya yang sobek hingga ke telinga mendadak tersenyum lebar sambil berbisik pelan: "Akhirnya kamu mendongak juga..."