Umum
20 jam yang lalu
Naila Menegang. Darahnya Mendidih, Wajahnya Memucat, Napasnya Tertahan Di
tenggorokan. Ia melihatnya — jelas, terang benderang.
Sentuhan itu, kedekatan itu, semua itu dipertontonkan tepat di hadapannya.
“BERHENTI!”
teriaknya sekuat tenaga, tubuhnya menegang melawan ikatan.
“MAS ZAYYAN! APA YANG KAU LAKUKAN?! APA KAU SUDAH GILA?!”
Zayyan tidak bergerak. Hanya menatapnya, dingin namun matanya bergetar.
“Biarkan saja. Lihatlah Naila . Katakan padaku, Naila — apa yang kau rasakan? Tak apa-apa? Atau ada yang terasa perih?”
“Aku minta kau berhenti!”
mata Naila memancarkan kilat amarah yang belum pernah dilihat siapa pun.
“Jangan melangkah terlalu jauh! Jangan rusak apa yang masih tersisa di antara kita!”
“Khawatir?”
tanya Zayyan, senyum getir terukir di bibirnya.
“Atau sekadar terganggu?”
“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!”
Naila berteriak, air mata mulai menetes, namun suaranya tetap tegas.
“Kau menyakiti bukan hanya aku — kau merendahkan dirimu sendiri! Seorang suami tidak mempertontonkan hal seperti ini pada istrinya!”
Sentuhan itu, kedekatan itu, semua itu dipertontonkan tepat di hadapannya.
“BERHENTI!”
teriaknya sekuat tenaga, tubuhnya menegang melawan ikatan.
“MAS ZAYYAN! APA YANG KAU LAKUKAN?! APA KAU SUDAH GILA?!”
Zayyan tidak bergerak. Hanya menatapnya, dingin namun matanya bergetar.
“Biarkan saja. Lihatlah Naila . Katakan padaku, Naila — apa yang kau rasakan? Tak apa-apa? Atau ada yang terasa perih?”
“Aku minta kau berhenti!”
mata Naila memancarkan kilat amarah yang belum pernah dilihat siapa pun.
“Jangan melangkah terlalu jauh! Jangan rusak apa yang masih tersisa di antara kita!”
“Khawatir?”
tanya Zayyan, senyum getir terukir di bibirnya.
“Atau sekadar terganggu?”
“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!”
Naila berteriak, air mata mulai menetes, namun suaranya tetap tegas.
“Kau menyakiti bukan hanya aku — kau merendahkan dirimu sendiri! Seorang suami tidak mempertontonkan hal seperti ini pada istrinya!”