Umum
1 jam yang lalu
*SINAR PAGI*
Pagi itu di teras kecil Surabaya, matahari belum tinggi.
Di sebuah pot hijau bekas, ada sebatang tanaman dengan satu bunga putih yang mekar. Tidak besar, tidak wangi menyengat. Tapi dia mekar.
Pemiliknya, seorang lelaki, setiap pagi hanya menyiramnya dengan sisa air wudhu. Tidak ada pupuk mahal.
Istrinya pernah berkata, "Ngapain dirawat, bunganya cuma satu?"
Lelaki itu menjawab, "Karena dia tetap mau hidup."
Hari itu dadanya sesak, pikiran ruwet. Tagihan, omongan orang, rasa lelah yang tidak ada habisnya.
Dia duduk di dekat pot itu. Sinar pagi jatuh tepat di bunganya.
Tiba-tiba dia sadar, Allah tidak pernah menanyakan berapa banyak bunga yang kau punya. Allah hanya melihat, apakah kau masih mau mekar hari ini, meski hidupmu cuma di pot bekas.
Dia tersenyum. Lalu dia mekar juga hari itu, dengan caranya sendiri.
Berangkat kerja, mengucap bismillah.
Selesai.
Di sebuah pot hijau bekas, ada sebatang tanaman dengan satu bunga putih yang mekar. Tidak besar, tidak wangi menyengat. Tapi dia mekar.
Pemiliknya, seorang lelaki, setiap pagi hanya menyiramnya dengan sisa air wudhu. Tidak ada pupuk mahal.
Istrinya pernah berkata, "Ngapain dirawat, bunganya cuma satu?"
Lelaki itu menjawab, "Karena dia tetap mau hidup."
Hari itu dadanya sesak, pikiran ruwet. Tagihan, omongan orang, rasa lelah yang tidak ada habisnya.
Dia duduk di dekat pot itu. Sinar pagi jatuh tepat di bunganya.
Tiba-tiba dia sadar, Allah tidak pernah menanyakan berapa banyak bunga yang kau punya. Allah hanya melihat, apakah kau masih mau mekar hari ini, meski hidupmu cuma di pot bekas.
Dia tersenyum. Lalu dia mekar juga hari itu, dengan caranya sendiri.
Berangkat kerja, mengucap bismillah.
Selesai.