Melihat satu produk terjual berkali-kali memang menyenangkan. Tapi jangan langsung menganggap produk... Lihat Selengkapnya
Melihat satu produk terjual berkali-kali memang menyenangkan. Tapi jangan langsung menganggap produk tersebut sebagai yang paling menguntungkan.
Penjualan tinggi belum tentu berarti keuntungan juga tinggi.
Ada produk yang cepat habis, tetapi marginnya sangat kecil. Setelah dikurangi biaya bahan, kemasan, ongkos kirim, promosi, dan biaya lainnya, uang yang tersisa mungkin tidak sebesar yang terlihat dari jumlah penjualan.
Karena itu, jumlah barang yang terjual sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran.
Coba lihat juga berapa keuntungan bersih yang benar-benar tersisa dari setiap produk.
Misalnya, produk A terjual 100 unit dengan keuntungan Rp5.000 per unit. Sementara produk B hanya terjual 40 unit, tetapi memberikan keuntungan Rp20.000 per unit.
Dari jumlah penjualan, produk A terlihat lebih unggul. Namun jika dihitung dari keuntungan, keduanya justru menghasilkan angka yang sama.
Perhitungan sederhana seperti ini bisa membantu menentukan produk mana yang perlu dipertahankan, dikembangkan, atau justru dievaluasi kembali.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah biaya di balik penjualan. Produk yang cepat laku tetapi membutuhkan banyak promosi atau penanganan khusus belum tentu lebih efisien dibandingkan produk yang penjualannya lebih sedikit tetapi marginnya sehat.
Jadi, jangan hanya bertanya, “Berapa banyak yang terjual?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Berapa yang benar-benar tersisa setelah semua biaya dibayar?”
Kalau kamu pernah menemukan produk yang ternyata keuntungannya jauh berbeda dari perkiraan, ceritakan pengalamannya di ZOYALINK. Cerita seperti itu bisa menjadi pelajaran sederhana tentang bagaimana melihat angka penjualan dengan lebih teliti.