Apocalypse World War 2: Insiden Mukden, Sebuah Negara Melakukan Invasi dengan Alasan Membela Diri it... Lihat Selengkapnya
Apocalypse World War 2: Insiden Mukden, Sebuah Negara Melakukan Invasi dengan Alasan Membela Diri itu Sudah Ada dari Dulu!
Yang tertulis dalam sejarah tentang terjadinya perang dunia kedua mungkin sangat familiar dengan tanggal 1 September 1939 ketika jutaan tentara Nazi Jerman menginvasi Polandia namun jika kita merujuk pada front asia dimana perang tersebut berlangsung maka pertikaian sebenar sudah sangat jauh dari tanggal tersebut, tapi awal yang tepat untuk dijadikan tanda adalah perang Tiongkok-Jepang kedua tanggal 7 Juli 1937 dengan beberapa insiden yang mengawalinya seperti insiden Mukden.
Insiden Mukden mungkin bisa kita lihat gambarnya sampai sekarang dimana sebuah negara melakukan invasi dengan dalih hanya ingin membela diri, namun kejadian di Mukden 18 September 1931 sangat kontroversial sebab yang terjabar sampai sekarang tindakan itu terjadi akibat sikap tentara bawahan maupun perwira menengah Jepang yang memang terkenal sangat temperamental dan selalu ingin terbaik demi negara maupun kesatuannya, salah satu contoh bagaimana sewaktu desas-desus kaisar Hirohito ingin mengumumkan penyerahan diri di tahun 1945 beberapa perwira Jepang di Tokyo langsung naik pitam dan berusaha mengkudeta kaisar mereka sendiri.
Insiden ini adalah yang paling awal dari beberapa insiden sebelum meletusnya perang skala penuh tahun 1937, berawal dari makin kuatnya Jepang menduduki Korea dan Manchuria setelah menang perang melawan rusia hingga punya kekuasaan untuk mengawasi dan mengambil sumber daya dari kawasan tersebut salah satunya mengatur dan menjaga jalur kereta api disana dengan perusahaan yang mempunyai hak sewa adalah perusahaan kereta api South Manchuria Railway anak cabang dari China Far East Railway, tugas penjagaan jalur tersebut yang diserahkan kepada tentara Jepang membuat para prajurit ini sering dibuat merasa bosan hingga mereka kadang melakukan serangan ke desa-desa perbatasan dengan tiongkok.
Ditambah dengan kemenangan singkat Uni Soviet pada 1929 atas pasukan Zhang Xueiliang semakin membuka tabir para perwira Jepang akan seberapa kuat kemampuan tentara Tiongkok kala itu, para tentara Kwantung melihat satu sisi bahaya cepat atau lambat menerkam mereka dari kekuatan tentara merah yang makin meningkat sedangkan disisi yang lain mereka melihat sesuatu potensi besar yang harus mereka ambil secepat mungkin sebelum tentara merah bertindak lebih jauh.
Beberapa perwira Jepang yang salah satunya adalah kolonel Itagaki berkeinginan untuk segera meluncurkan invasi ke Manchuria dengan terlebih dahulu menggunakan insiden propaganda karena dia sadar orang Tiongkok takkan membalas provokasi maka harus mereka sendiri yang membuatnya, dengan rencana cermat perwira tersebut memilih sabotase pada rel kereta api dekat danau Liutiao sekitar 800 meter dari garnisun Tiongkok Beidayin.
Sangat tepat dan meyakinkan karena jika ledakan tersebut terdengar tentu para tentara Tiongkok tersebut akan keluar memeriksa hingga bisa dituduhkan mereka adalah penyebab serangan terhadap rel kereta api tersebut, dan saat itulah yang sangat tepat bagi tentara Jepang memiliki dalih dengan kekuatannya untuk melindungi jalur kereta api yang sangat vital tersebut.
Rencana (kemungkinan) dieksekusi oleh letnan satu Suemori Komoto dari resimen ke 29 pada pukul 22:20 tanggal 18 September 1931 yang menempatkan bom terlalu jauh dari rel hingga memiliki dampak yang sangat kecil, bahkan sebuah kereta api pun masih bisa melewati jalur tersebut keesokan harinya.
Sehari kemudian 19 September dengan alasan membalas insiden yang dilakukan tentara Tiongkok tersebut 500 tentara Jepang langsung melintasi perbatasan dan menyerang garnisun Zhang Xueliang yang dijaga 7 ribu personel, namun jumlah sebanyak itu bukanlah tandingan bagi tentara jepang yang sarat akan pengalaman hingga pada sore hari pertempuran selesai dan Mukden pun dikuasai oleh tentara Jepang melalui pertempuran sengit yang menelan korban 500 tentara Tiongkok tewas dan hanya 2 tentara dipihak Jepang yang meregang nyawa.
Mungkin tragedi ini bisa menjadi rujukan, walaupun sebenarnya para panglima perang dari berbagai negara juga tahu bahwasanya perang itu bisa terjadi kapanpun, namun tragedi ini mengindikasikan sangat perlunya bagi sebuah negara memiliki tentara yang kuat dan terus memperkuat angkatan bersenjata mereka sampai sedemikian kuat agar bisa meminimalisir kehancuran yang sangat parah akibat kurangnya mawas diri menghadapi berbagai ancaman!
Sumber: