Apocalypse World War 2: Perang Italia-Ethiopia Kedua, Cermin Kelemahan Militer Italia yang Dinilai o... Lihat Selengkapnya
Apocalypse World War 2: Perang Italia-Ethiopia Kedua, Cermin Kelemahan Militer Italia yang Dinilai oleh Para Musuhnya di Perang Dunia Kedua!
Sebagai salah satu tujuan kolonialisme negara barat wilayah di Afrika mungkin lebih sering terdengar sebagai jajahan negara Inggris, Prancis dan sebagian kecil yang diduduki oleh Kerajaan Spanyol, tapi sebenarnya negara Italia pun punya cukup besar kekuasaan di daerah tersebut namun tidak dipungkiri soal kekuatan negeri ini sangat jauh berbeda dibandingkan dengan masa keemasan Romawi kuno dulu.
Bahkan Italia pernah dikalahkan oleh kerajaan Kristen Koptik Etiopia dalam pertempuran Adowa pada 1 Maret 1893, sebuah kekalahan memalukan yang masih diingat oleh orang Italia sampai sekarang dengan sebuah istilah "Noda di Adowa", pertempuran ini juga jadi simbol bagi berbagai bangsa di Afrika tentang perjuangan mereka dalam melawan penjajah, hanya dengan tekad kuat dari mereka akhirnya penjajah diatas tanah mereka bisa dihapuskan.
Salah satu awal peristiwa menuju perang dunia 2 selain perang Tiongkok-Jepang kedua adalah ketika Italia dibawah rezim Mussolini bertekad kuat membalas penghinaan dalam pertempuran Adowa tersebut demi Italia la prima, Italia raya yang jaya dan agung!
Insiden berbuntut perang terjadi di tahun 1934 ketika bentrok antara dua negara tersebut di perbatasan Walwal mengakibatkan 130 personil tewas di kedua belah pihak, dengan cermat militer negara pizza ini mengambil sekutu dari beberapa suku di Ethiopia yang memang tidak setia dengan Kaisar Haile Selassie.
Gerak maju pasukan Italia yang di pimpin langsung dari oleh Benito Mussolini ini dengan cepat menuju Adis Ababa, berbekal senjata yang lebih canggih dan senjata kimia terlarang seperti gas mustard dan fosgen maka runtuhlah kekaisaran tersebut dalam genggaman italia sedangkan kaisarnya mengungsi Kerajaan Inggris.
Walau kaisar Haile Selassie sudah berbicara banyak dalam forum LBB bahkan ia lakukan sebelum Italia melakukan invasi ke negerinya maupun sesudah dirinya mengungsi namun banyak dari para petinggi di liga bangsa-bangsa tersebut yang sama sekali tak mengetahui tentang Ethiopia, ini adalah salah satu bukti dari kegagalan organisasi dunia sebelum berubah menjadi PBB.
Perang Italia-Ethiopia kedua melibatkan 760 ribu orang Ethiopia yang hanya seperempatnya adalah tentara dengan kekuatan 5 tank ringan dan 12 pesawat udara Biplane usang melawan 400 ribu tentara Italia bersenjata lengkap yang disupport oleh 150 tank dan 150 pesawat tempur.
Dalam perang yang bagaikan langit dan bumi ini juga mengungkap pada dunia tentang beberapa celah kelemahan militer Italia seperti tidak patuhnya beberapa komandan terhadap perintah atasan mereka, persaingan ketat antara tentara resmi dengan milisi fasis dan juga beberapa strategi matang pasukan Ethiopia beberapa kali memporak porandakan militer Italia, seperti saat sepupu kaisar Haile Selassie, Ras Imru beserta 3000 pasukannya menyerang Batalion Kolonial Eritrea yang menewaskan 9 perwira dan 22 tentara Italia, 370 tentara pendukung Italia dari suku asli Ethiopia, merebut banyak senapan mesin dan membebaskan kembali beberapa kota penting seperti Abbi-adda.
Peristiwa ini membuat Mussolini marah dan mengganti Marsekal de Bono dengan Marsekal Badoglio serta menyuruh pemimpin baru tersebut menggunakan apa saja cara agar menang, termasuk dengan melancarkan serangan senjata kimia terlarang.
Heroiknya pasukan Ethiopia diungkapkan sendiri oleh Haile Selassie dalam sebuah tulisan:
KAMI MENYERANG SARANG SENAPAN MESIN MUSUH, ARTILERI, TANK YANG DITANGKAP DENGAN TANGAN KOSONG, KAMI MENAHAN PEMBOMAN UDARA, TETAPI KAMI TIDAK DAPAT MELAKUKAN APA PUN TERHADAP GAS BERACUN YANG SECARA TIDAK TERLIHAT JATUH DI WAJAH DAN TANGAN KAMI.
Pertempuran terakhir terjadi di Mai-chou, utara danau Asheng ketika 31 ribu pasukan Ethiopia melawan 125 ribu tentara Italia yang dilengkapi 210 artileri, 276 tank dan ratusan pesawat tempur, inilah pertempuran terbesar yang terakhir dalam perang tersebut karena setelahnya hanya terdapat pertempuran-pertempuran kecil sampai 5 Mei 1935 tentara Italia pun memasuki Adis Ababa.
Namun sejatinya perang Italia-Ethiopia kedua tidak pernah selesai sampai 1941 ketika akhirnya tentara Italia pergi meninggalkan negeri tersebut, sebab pertempuran sering terjadi karena beberapa suku-suku loyalis kaisar Ethiopia melakukan taktik perang gerilya, dalam perang ini tercatat 275 ribu tentara tewas, 300 ribu warga sipil mati kelaparan dan 181 ribu orang tewas dieksekusi maupun dalam kamp konsentrasi.
Mungkin inilah salah satu kemenangan Italia yang membuat jumawa Mussolini yang berakibat fatal sebab menilai sebuah perang berdasarkan atas kekuatan yang dimiliki oleh negara-negara di Afrika, sedangkan militer di eropa pasti sangat berbeda dengan yang ada di eropa, yang bahkan ada anggapan bahwa militer italia di masa perang dunia kedua sebenarnya hanya pantas untuk melawan negara-negara di Afrika.
Sumber: